Translate

IJTIHAD PADA MASA RASULULLAH

 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Seperti apa yang telah kita ketahui bersama bahwa ijtihad menurut pengertian ulama ushul ialah mencurahkan segala kemampuan untuk mendapatkan syara’ (hukum islam) yang bersifat operasional dengan istimbat (mengambil kesimpulan hukum).
Pada saat Rasulullah masih hidup, penentuan hukum berdasarkan atas dua sumber yaitu wahyu Allah dan ijtihad Rasulullah SAW. Terjadinya suatu peristiwa yang menghendaki adanya hukum dapat timbul karena adanya suatu pertanyaan atau perselisihan bahkan atas permintaan Rasul, maka Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan hukum yang dikehendaki untuk disampaikan kepada umatnya.
B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan merumuskan masalah yang akan didiskusikan bersama :
1.      Bolehkah Nabi Muhammad SAW berijtihad ?
2.      Bagaimana pendapat para ulama mengenai hal tersebut ?
3.      Bolehkah selain Nabi berijtihad pada masa beliau ?
4.      Apa hikmah ijtihad pada masa Rasul ?


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Diperbolehkannya ijtihad bagi Nabi SAW
Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah boleh bagi Nabi SAW. Menetapkan hukum dengan ijtihad dalam kasus perkara yang tidak ada nashnya, atau sebaliknya ? ulama Hanafiyah berpendapat bahwa apabila dihadapkan pada suatu peristiwa hukum, Nabi SAW diperintah untuk menunggu wahyu, kecuali bila dikhawatirkan momen peristiwa hukum itu berlalu dan diperintahkan ijtihad apabila Nabi tidak diberi wahyu.[1]
Ijtihad yang dilakukan Nabi SAW terbatas pada proses Qiyas. Apabila beliau menetapkan ijtihadnya, maka hal itu merupakan dalil yang sudah pasti keabsahannya karena beliau tidak akan menetapkan kesalahan, dan oleh karena itu tidak boleh berbeda dengannya sebagaimana diperbolehkan berbeda dengan para mujtahid lainnya. Ulama Hanafiyah menganggap bahwa ijtihad Nabi ini merupakan salah satu bentuk wahyu dan mereka menyebutnya sebagai wahyu batin. Kebanyakan ahli ushul berpendapat bahwa Nabi SAW diperintahkan berijtihad secara mutlak dengan tanpa terikat menunggu wahyu.
Ulama Asy’ariyah, kebanyakan ulama Mu’tazilah dan ulama Mutakallimin (ahli teologi) berpendapat bahwa Rasulullah SAW. Tidak melakukan ijtihad dalam menetapkan hukum-hukum syar’iyah. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa beliau SAW. Berijtihad dalam menentukan strategi dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan saja.
Dalil madzhab yang dipilih  adalah bahwa ijtihad Rasulullah SAW. Terjadi dalam hal-hal yang berhubungan dengan penentuan hukum syar’iyah dan dalam hal-hal yang berkaitan dengan peperangan. Adapun ijtihad yang berkaitan dengan hal-hal dalam peperangan ditunjukkan oleh firman Allah SWT :
عفا الله عنك لم اُذنت لهم حتّي يتبيّن لك الّذين صدقوا وتعلم الكذبين
Artinya :"Semoga Allah mema'afkanmu. mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?". (Q.S At Taubah : 43)
Firman itu adalah teguran kepada beliau atas izinnya kepada sekelompok orang-orang munafik untuk tidak ikut dalam perang Tabuk. Secara pasti izin ini tentu tidak berasal dari nash, sebab jika izinnya didasarkan pada nash, maka Nabi tidak ditegur, tetapi berasal ijtihad.
Allah berfirman :
لولا كتاب من الله سبق لمسّكم فيما اًخذتم عذاب عظيم
Artinya :"Kalau Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil". (Q.S Al Anfaal :68)
          Firman ini turun sebagai teguran atas persetujuan beliau terhadap pendapat Abu Bakar dan sahabat lainnya dalam penerimaan tebusan dari tawanan-tawanan perang Badar.
            Adapun ijitihad Nabi dalam hukum-hukum syara’, maka (keberadaannya) ditetapkan oleh sabda beliau SAW. Diwaktu haji wada’ (haji perpisahan) :
لَوِاسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا أُهْدِيْتُ، وَلَوْ لاَ أَنَّ مَعِي الْهَدْيَ لأَحْلَلْتُ.
Artinya :"kalau terjadi lagi masalahku ini yang sudah lewat, aku tidak membawa hewan Sembelihan (di waktu ihram) dan kalau aku tidak membawa hewan sembelihan ini tentu aku telah bertahallul”.
            Menggiring hewan sembilahan termasuk amalan-amalan haji dan Nabi telah melakukannya dengan ijtihad yang tidak ada nashnya, sebab kalau tidak, maka tidak ada artinya bagi penyesalan atas perbuatannya.
            Diriwayatkan dari Ummi Salamah, beliau berkata : “Dua orang Anshar telah datang kepada Nabi SAW. dalam perkara warisan yang sudah lama (diperebutkan oleh) keduanya”. Maka Nabi SAW bersabda :
إاٍنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَ إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُوْنَ إِ؄َيَّ وَ إِنَّمَا أَقْضِى بِرَأْيِي فِيْمَا لَمْ يُنْزَلْ عَلَيَّ فِيْهِ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيْهِ فَلاَ يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ يَأْتِى بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى عُنُقِهِ.
Artinya: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa dan kamu mengadu kepadaku. Hanyasaya aku akan memutuskan hal-hal yang wahyu  belum turun kepadaku dengan pendapatku (sendiri), maka barangsiapa yang aku tetapkan baginya dengan sesuatu dari hak saudaranya kemudian orang itu tidak mengambilnya, maka aku memberinya sepotong api yang kelak di hari kiamat dia akan membawanya di atas lehernya”.
Adapun orang-orang yang menolak bahwa Nabi melakukan ijtihad mengemukakan dalil, firman Allah :
وما ينطق عن الهوئ * اٍن هو الاّ وخي يوحى*   
Artinya : “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (Q.S An Najm : 3-4)

2. Diperbolehkannya Ijtihad bagi selain Rasulullah Pada masa beliau

      Para ahli ushul berselisih pendapat mengenai diperbolehkannya  ijtihad bagi selain Rosul SAW. Pada masa kerasulan. Pendapat yang dipilih menyebutkan bahwa hal itu diperbolehkan, baik sewaktu Rosul. Ada ataupun tidak. Dalil yang menunjukkannya adalah terjadinya praktek ijtihad sebagaimana terdapat dalam hadist Muadz yang popular dikalangan umat dan mereka dapat menerimanya. Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, segala persoalan hukum yang timbul langsung ditanyakan kepada beliau. Beliau memberikan jawaban hukum dengan menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam keadaan tertentu yang tidak ditemukan jawabannya dalam al-Qur’an, beliau memberikan jawaban melalui penetapan beliau yang disebut Hadist atau Sunnah.
Begitu pula selanjutnya setelah masa Nabi, apabila para sahabat menemukan kejadian yang timbul dalam kehidupan mereka dan memerlukan ketentuan hukumnya, mereka mencari jawabannya dalam al-Qur’an. Bila tidak menemukan jawabannya secara harfiah dalam al-Qur’an, mereka mencoba mencarinya dalam koleksi hadist Nabi. Dan apabila mereka belum menemukan juga jawabannya dari kedua sumber tersebut. Maka , mereka menggunakan daya nalar yang dinamakan Ijtihad. Dalam berijtihad itu mereka mencari titik kesamaam dari suatu kejadian yang dihadapi dengan apa-apa yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits. Mereka selalu mendasarkan pertimbangan pada usaha “memelihara kemaslahatan ummat” yang menjadi dasar penetapan hukum syara’.
            Dengan cara seperti itulah Muadz Ibn jabal memberikan jawaban kepada Nabi dalam dialog di antara keduannya sewaktu Muadz diutus oleh Nabi ke Yaman untuk menduduki jabatan qadhi. Nabi berkata : “Bagaimana cara anda menetapkan hukum bila kepada anda dihadapkan perkara yang memerlukan ketetapan hukum?. Muadz menjawab: “ Aku menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah, kemudian Rasullah bertanya lagi : “Bila anda tidak menemukan jawabannya dalam kitab Allah ?. Muadz pun menjawab : “ Aku menetapkan hukum dengan sunnah Nabi. Rasulullah kembali bertanya : “ Bila dalam sunnah,tidak ditemukan juga, maka Muadz menjawab : “Aku melakukan Ijtihad dan aku tidak akan gegabah dalam Ijtihadku”. Jawaban muadz dengan urut-urut seperti itu mendapat pengakuan dari Nabi Muhammad SAW. Ini berarti konsep ijtihad boleh dilakukan ketika kedua sumber hukum tersebut yakni al-Qur’an dan al-Hadits tidak ditemukan hukum secara rinci menjelaskan jawaban terhadap suatu masalah. Dalam rangka inilah Rasulullah membolehkan konsep ijtihad dilakukan,
Pada zaman Rasulullah ternyata ijtihad dilakukan oleh Rasulullah dan juga para sahabat, bahkan ada kesan Rasulullah mendorong para sahabatnya untuk berijtihad.,” seperti terbukti dari cara Rasulullah sering bermusyawarah dengan para sahabatnya
(kasus Muadz ibn Jabal yang diutus ke Yaman)

Pada zaman Rasulullah ini tidak seluas pada zaman sesudah rasulullah, karena banyak masalah-masalah yang ditanyakan kepada Rasulullah kemudian langsung dijawab dan diselesaikan oleh Rasulullah sendiri.
 Sahabat pernah melakukan ijtihad ditengah kehadiran Nabi SAW. Ijtihad yang dimaksud itu terjadi pada saat perang Hunain bahwa Abu Qotadah membunuh seorang musuh sehingga ia merasa berhak atas rampasannya sesuai dengan sabda Rosul SAW :
مَنْ قَتَلَ قَتِيْلاً فَلَهُ سَلَبُهُ.
Artinya:”Barang siapa membunuh musuh maka ia berhak atas rampasannya”.
Salah seorang dari suatu kaum berkata kepada Rasulullah SAW : “Rampasan dari korban terbunuh itu ada padaku, maka relakanlah rampasan itu untukku.” Abu Bakar r.a berkata : “Tinggalkanlah urusan Allah itu, kalau begitu !, tidak dimaksudkan rampasan itu untuk seorang dari orang-orang yang menjadi tentara Allah yang berperang untuk Allah dan Rosul-Nya hingga ia memberikan rampasannya kepadamu.” Kemudian Rasulullah SAW. bersabda : “ Benar, apa yang dikatakan Abu Bakar.”
Yang jelas bahwa ijtihad ini berasal dari Abu Bakar yang dilakukan ketika berada dihadapan Rasulullah SAW; sementara beliau membenarkannya dengan pengakuan beliau terhadap ijtihad itu. Rasulullah SAW. pernah berkata kepada Amru Bin Ash : “Berilah keputusan hukum sebagian kasus-kasus itu !.” Amru Ibnu Ash pun menjawab : “Apakah aku boleh berijtihad sementara engkau sendiri ada ? beliau menjawab : “Ya , jika engkau tepat, maka engkau mendapat dua pahala dan bila salah, maka engkau dapat satu pahala.”
Rasulullah SAW. juga pernah bersabda kepada ‘Utbah Ibnu Amir dan salah seorang sahabat : “Lakukanlah ijtihad, jika kamu berdua benar, maka kamu mendapat sepuluh kebaikan dan jika kamu salah maka kamu mendapat satu kebaikan.” Apabila selain Rasulullah SAW. telah melakukan ijtihad kemudian beliau mengetahui dan mengakuinya, maka ijtihad tersebut termasuk sunah sehingga tidak boleh ditentang.

3.  Hikmah Ijtihad pada masa Rasulullah SAW
Setelah kita mengetahui bagaimana ijtihad pada masa Rasulullah SAW, alangkah baiknya jika kita mengetahui hikmah dari ijtihad tersebut, yaitu
->  Ijtihad Rosul sangat diperlukan untuk memperoleh penjelasan atau keputusan hukum mengenai suatu peristiwa dengan segera terhadap suatu hukum yang tidak ada dalam wahyu Allah SWT.
->  Ijtihad adalah perbuatan manusia, dengan berijtihad akan menunjukkan kepada umat bahwa, Rosul adalah manusia juga seperti manusia lainnya hanya saja apabila ijtihad Rasulullah SAW keliru, maka kekeliruan itu langsung diingatkan oleh Allah SWT dan dibenarkan atau diluruskan.

BAB III
KESIMPULAN
->  Nabi SAW melakukan ijtihad secara mutlak baik dalam menentukan hokum syar’iyah maupun dalam hal-hal yang berkaitan dengan peperangan dan itu semua dibawah pengawasan Allah SWT yaitu bilamana ijtihad Nabi benar maka dibenarkan oleh Allah SWT dan jika salah diluruskan Oleh Allah SWT.
->  Selain Nabi juga boleh melakukan ijtihad pada masa beliau dan apabila selain Nabi telah melakukan ijtihad, kemudian Nabi mengetahui dan mengakuinya, maka ijtihad tersebut termasuk sunah sehingga tidak boleh ditentang.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Khudlori biek, Syekh Muhammad; Ushul Fiqh : penerjemah Faiz el Muttaqien, Ushul Fiqih, Jakarta: Pustaka Amani , 2007
Insiklopedi Islam, Jakarta, Cet 1999
Wahabah az zuhaili, ushul fiqh al islamy, darul fikr, tth
 Al-qur’anul karim, tth
















[1] Wahbah zuhaili

Tidak ada komentar: