Translate

SYARAT SYARAT MUJTAHID DAN IJTIHAD MASA SEKARANG


BAB I
Pendahuluan
       Segala puji bagi allah SWT yang telah memberikan kepada penulis taufik dan hidayahnya sehingga mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar. Shalawat dan salam juga semoga senantiasa tercurahkan kepada rosulloh SAW, para keluarga dan shahabat beliau yang senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al- Khadits.
       Suatu kebanggaan tersendiri yang di miliiki oleh manusia atas karunia rahmat, taufik, dan hidayah-Nya yang di berikan kepada kita semua yaitu berupa akal pikiran yang sempurna (berbeda dengan mahluk allah SWT yang lainnya), dan seyogyanya kita sebagai mahluk ciptaan allah yang berakal mengagungkannya dengan segala sesuatu yang kita miliki, seperti memikirkan, mengangan-angan ciptaan allah yang begitu dahsyatnya menciptakan langit dan bumi seisinya serta galaksi-galaksi yang ada di luar angkasa. Kemudian lebih mengerucut lagi pada permasalah hukum syari’at yang di bebankan kepada kita semua untuk menjalankannya. Di dalam al-Qur’an banyak  sekali hukum yang berkaitan dengan ciptaan allah, tapi dengan penunjukan yang belum jelas, Itu semua di tujukan pada manusia agar mereka berpikir tentang ayat-ayat allah yang penuh dengan ma’na dan rahasia tersendiri, oleh sebab itu di sini nanti kita akan mempelajari tentang hukum-hukum islam modern melalui pemikiran manusia seutuhnya untuk membuat suatu hukum yang baru(ijtihad). 
        Realita pada zaman sekarang dengan globalisasi dan peradaban dunia yang semakin maju memungkinkan sekali untuk suatu hukum syari’at islam berkembang, di samping itu juga pemikiran manusia yang berkembang  dan memungkinkan manusia untuk membuat sesuatu yang baru, Dimana mereka berpikir bahwa sesuatu  yanng baru( pada zaman rosululloh SAW tidak ada) pasti mempunyai hukum yang baru juga( dalam al-Quran dan al-khadits belum ada), sesuai dengan firman allah:
والذين جهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وان الله لمع المحسنين(اللعنكبت:69 )
                 Artinya: “Dan orang-orang yang beerijtihad untuk (mencari keridhoan) kami,benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berrama orang-orang yang berbuat baik”.
Mengingat permasalahan yang ada pada zaman sekarang maka disini penulis akan menguraikan berbagai syarat-syarat yang harus terpenuhi oleh seseorang yang ingin berijtihad dan juga nanti disini akan di uraikan mengenai kemungkinan berijtihad pada zaman sekarang.





BAB II
Pembahasan

A.    Syarat-Syarat Ijtihad
         Di dalam suatu hukum yang  berlebel islam mempunyai banyak sekali permasalahan atau sesuatu yang di anggap tabu, musykil dan layak untuk diperbincangkan, untuk itu di sini penulis akan memaparkan cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan berijtihad.
         Seorang mujtatahid untuk bisa berijtihad pada zaman sekarang yang serba modern ini, zaman yang semakin berkembang dan hukum islam yang semakin fleksibel seorang mujtahid di tuntut untuk bisa memenuhi syarat yang akan sampai pada derajat mujtahid, tapi dalam hal ini para ulama masih berbeda pendapat tentang pensyaratan terhadap seorang mujtahid, tapi semua itu bermuara/ mempunyai inti yang sama. Di bawah ini ada beberapa ulama-ulama terkemuka yang berargument mengenai pensyaratan terhadap sesorang mujtahid diantaranya adalah sebagai berikut:

a)      الامام الغزالي[1]
                   Imam ghozali dalam mensyaratkan terhadap seorang mujtahid ada dua syarat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Seorang mujtahid harus mengetahui tentang hukum-hukum syara’, tidak hanya itu, seorang mujtahid juga di tuntut untuk mendahulukan sesuatu yang wajib di dahulukan dan mengakhirkan sesuatu yang wajib di akhirkan.
2.      Seorang mujtahid harus adil dan juga harus menjauhi perbutan ma’siat yang bisa menghilangkan sifat keadilan seorang mujtahid. Syarat ini bisa untuk menjadi pegangan oleh para mujtahid, tapi kalau seorang mujtahid tidak ‘adil maka hasil ijtihadnya tidak syah atau tidak boleh untuk di jadikan sebuah pegangan oleh orang awam.
b)      الامام الشا طبي[2]
     Menurut imam as-syatiby seorang yang ingin mencapai derajat mujtahid harus bisa memenuhi dua syarat di bawah ini:
1.      Bisa memahami tujuan syariat secara sempurna,
2.      Bisa menggali suatu hukum atas dasar pemahaman seorang mujtahid.
c)      الامام الامدي والبيضوي[3]
       menurut imam ini seorang mujtahid harus memenuhi beberapa syarat di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Seorang mujtahid harus mukallaf, iman kepada allah SWT dan rosululloh SAW.
2.      Seorang mujtahid harus bisa memahami dan mengerti tentang hukum syariat islam serta dalil yang menunjukan pada keabsahan hukum syariat tersebut.
            Selain dari pendapat 3 ulama terkemuka tersebut para ulama ushul fiqih juga telah menetapkan syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang mujtahid sebelum melakukan ijtihad diantaranya adalah sebagai berikut:
1.   Mengetahui Bahasa Arab.
           Mengetahui bahasa yang baik sangatlah di perlukan oleh seorang mujtahid.Sebab Al-Qur’an di turunkan dengan bahasa arab, dan As-Sunnah juga di paparkan dengan bahasa arab[4], keduanya merupakan sumber utama hukum islam sehingga seorang mujtahid tidak mungkin bisa menggali sebuah hukum tanpa memahami bahasa arab dengan baik.Menurut al-syaukani(ahli ushul dari yaman)tuntutan bagi seorang mujtahid dalam menguasai bahasa arab seperti nahwu,shorof dan lain sebagainya.
2.   Mempunyai pengetahuan yang Mendalam tentang Al-Qur’an[5].
           Maksudnya adalah mengetahui Al-Qur’an dengan segala ilmu yang terkait dengannya seperti nasih mansuh,’Am, khosh dan lain sebagainya.Mengenai ayat-ayat al-qur’an yang harus di hafal oleh seorang mujtahid yang berkaitan dengan hukum para ulama ushul fiqih masih berbeda pendapat. Dalam kaitan ini imam ghozali berpendapat bahwa ayat-ayat al-qur’an yang secara  rinci membicarakan tentang hukum hanya ada 500 ayat[6], namun bukan berarti ayat lainnya tidak mengandung hukum yang dapat di istimbatkan, karena setiap ulama  memahami al-qur ‘an secara seksama akan bisa beristimbath hukum dengan ayat yang mana saja.Denan demikian , jumlah ayat hukum yang di ketengahkan oleh imam al-ghozali tersebut hanyalah sebuah perkiraan dan hanya melihat pada ayat-ayat al-qur’an secara rinci saja. Oleh kerena itu untuk menghindari kesalah pahaman tersebut wahbah al-zuhaili mengemukakan bahwa seorang mujtahid di syaratkan memahami ayat-ayat hukum secara baik dan benar.
3.   Mempunyai Pengetahuan yang Memadai tentang As-Sunnah.
           Pengetahuan tentang al-sunnah dan hal-hal yang terkait dengannya harus di miliki oleh seorang mujtahid. Sebab Al-sunnah merupakan sumber kedua hukum syara’ di samping al-qur’an yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasnya[7]. Pengetahuan tentang al-sunnah ini meliputi: dirayah, riwayah, asbab al-wurud, dan al-jarh wa al-ta’dil. Dalam kaitan ini seorang dititikberatkan kepada pemahaman hadits-hadits yang mengandung hukum. Disini para ulama berbeda pendapat tentang pensyaratan terhadap seorang mujtahid untuk menghafal seluruh hadits hukum yang jumlahnyappun masih di perselisihkan antara 3.000, 1.200, 500, dan 300 hadits. Dalm hal ini Sayyid muhammad Musa tidak mengharuskan bagi seorang mujtahid untuk menghafal seluruh hadits hukum, ia hanya mensyaratkan bagi seorang mujtahid untuk memiliki kemampuan dalam mambahas hadits-hadits hukum yang ada dalam kitab shoheh serta mampu melakukan penelitian terhadap kualitas hadits tersebut.
4.   Mengetahui Letak  dan Khilaf.
           Pengetahuan tentang hal-hal yang telah di sepakati(ijma’) dan hal-hal yang masih di perselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagib seorang mujtahid. Halz ini di maksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum yang dengan ijma’ para ulama sebelumnya, baik sahabat, tabi’in maupun generasi setelah itu. Oleh karena itu sebelum membahas suatu permasalahan, seorang mujtahid harus melihat dulu status persoalan yang akan di bahas,apakah persoalan itu sudah pernah muncul pada zaman dahulu apa belum ?, maka dapat di pastikan bahwa belum ada ijma’ terhadap masalah tesebut[8].
  Selain mengetahui masalah yang telah di sepakati, seorang mujtahid juga harus mengetahui masalah yang masih di perselisihkan di kalangan fuqaha’. Hal ini dimaksudkan agar ia dapat memilahkan antara pedapat yang shoheh dan tidak shoheh, serta yang kuat dan yang lemah, dengan mencoba menelusuri metode yang di gunakan oleh para fuqaha’ tersebut.
5.      Mengatahui Tujuan dari Syariat Islam.
            Pengetahuan tentang tujuan syari’at islam sangatlah di perlukan bagi seoarang mujtahid, hal ini di sebabkan karena semua keputusan hukum harus selaras dengan tujuan syari’at islam yang secara garis besar adalah untuk memberi rahmat kepada alam semesta[9], khususnya untuk kemaslahatan umat manusia. Oleh karena itu hukum yang di tetapkan seoarang mutahid harus mampu memelihara tiga tingkatan kemaslahatan manusia yaitu primer, skunder, dan tersier. Seperti menghilangkan kesulitan dan mencegah kesempitan, serta memilih kemudahan dan meninggalkan kesukaran. Jika kesukaran (masaqah) terpaksa di berlakukan dalam tuntutan syari’at islam, maka pada hakikatnya hal itu untuk menolak datangnya masaqah yang lebih besar[10].
6.      Memiliki Pemahaman dan Penalaran yang Benar.
            Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus di miliki oleh seorang mujtahid agar produk  ijtihadnya bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah di kalangan masyarakat. Dalam kaitan ini mujtahid harus mengetahui batasan-batasan, argumentasi, sistematika, dan proses menuju konsklusi hukum agar pendapatnya terhindar dari kesalahan[11].
7.      Memiliki pengetahuan tentang Ushul Fiqih.
            Penguasaan secara mendalam tantang ushul fiqih merupakan kewajiban setiap mujtahid. Hal ini di sebabkan  karena  kajian ushul fiqih antara lain memuat bahasan mengenai metode ijtihad yang harus di kuasai oleh siapa saja yang ingin beristimbat hukum. Di samping mengkaji tentang kaidah kebahasaan seperti amar, nahi, ‘am, khos, juga mengkaji tentang metode maqasid al-syar’iah seperti ijma’, qiyas, istikhsan, maslakhah mursalah,’urf dan sebagainya[12]. Oleh karena itu Fakhruddin Al-Razi menegaskan bahwa ilmu yang paling penting untuk di kuasai seorang mujtahid adalah ilmu ushul fiqih[13]. Dalam kaitan ini Al-Ghozali juga mengatakan bahwa yang paling penting dari ilmu ijtihad adalah ushul fiqih
8.      Mengetahui tentang Manusia dan Lingkungan Sekitarnya.
               Seorang mujtahid di haruskan untuk mengetahui kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya, hal ini di sebabkan karena seseorang tidak mungkin memutuskan suatu hukum tanpa di pengaruhi oleh obyek hukum baik individu maupun masyarakat. Oleh karaena itu sebelum beristimbat hukum, maka harus mengetahui dahulu segi kejiwaan, kebudayaan,kemasyarakatan, perekonomian, politik, dan sesuatu yang terkait dengan manusia saat itu[14]. Selain itu dalam konteks kebudayaan dewasa ini mujtahid di tuntut untuk mengetahui ilmu pendidikan, sejarah, hukum negara, biologi, matematika, kimia, dan lain sebagainya. Berbagai disiplin ilmu ini sangat diperlukan bagi seorang mujtahid agar hukum yang di tetapkan tidak melenceng dari sebenarnya. Seperti seorang mujtahid yang akan menetapkan hukum bayi tabung, maka diperlukan pengetahuan tentang kedokteran dengan berbagai spesialisnya, etika, kejiwaan, serta disiplin ilmu lainnya yang terkait.
9.      Niat dan I’tiqad yang benar.
            Seorang mujtahid harus niat ikhlas dengan mencari ridho allah SWT, hal ini di sebabkan karena seorang mujtahid yang mempunyai niat  tidak ikhlas sekalipun daya pikirnya tinggi, maka peluang untuk membelokan jalan pikirannya sangat besar sehingga berakibat kesalahan produk ijtihadnya[15]. Bahkan lebih dari itu dia akan mempertahankan hasil ijtihadnya sekalipun ada pendapat lain yang lebih kuat dalinya. Padahal para imam mujtahid terdahulu telah memeberi contoh untuk menerima pendapat orang lain secara obyektif. Dalam hal ini mereka mengatakan “pendapat kami adalah sebuiah kebenaran yang mengandung kesalahan dan pendapat orang lain adalah sebuah kesalahan yang mengandung kebenaran[16],”
            Persyaratan diatas merupakan persyaratan kepribadian yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid. Disamping persyaratan tersebut para ulama ushul fiqih juga memberi persyaratan lain seperti dewasa, beragama islam, dan sehat pikirannya. Pesyaratan yang terakhir ini disebut dengan “ Assyurut ammah” atau syarat-syarat umum. Dewasa merupakan persyaratan yang harus dipenuhi seseorang yang akan beristimbath hukum karena anak kecil masih belum memiliki kecakapan bertindak hukum, sehingga perbuatan yang ia lakukan tidak dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Demikian pula seorang mujtahid harus beragama islam, karena hukum yang digali adalah hukum islam, sehingga selain umat islam jika beristimbath hukum islam dikhaw atirkan akan membawa kesesatan. Selanjutnya, seorang mujtahid juga harus dalam kondisi sehat pikirannya, sebab seseoarang yang kondisi akalanya tidak sehat justru akan memberi informasi yang diluar kontrol akalnya. Itulah syarat yang harus dipenuhi oleh seoarang mujtahid, sehingga hasil ijtihadnya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan standar keilmuan yang ada.
B.     Peluang Ijtihaaad pada Dewasa Ini
            apabila kita memahami bersama, bahwa ijtihad merupakan keharusan  islam pada zaman modern ini, di samping merupakan fardhu kifayah yang di bebankan kepada umat manusia. Maka mudahkah untuk kita untuk  kita berijtihad ? dan mudahkah untuk seorang ilmuan pada masa kini untuk memilki syarat ijtihad yang sudah di kenal dalam sejarah ilmu fiqih itu?.
            Disini penulis akan mengemukakan, bahwa syarat ijtihad sebagaimana yang telah di tetapkan oleh ulama ushul fiqih untuk seorang mujtahid tidaklah sulit untuk mendapatkannya sebagaimana dugaan sementara orang. Dimana mereka mencoba untuk memepersempit keluasan karunia allah dan breusaha menutup pintu ijtihad yang semestinya telah dibukakan oleh allah SWT sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
            Berikut ini penulis akan memaparkan pendapat para  pakar peneliti islam yang hidup pada abad modern ini mengenai ijtihad.
1)           Sayyid Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar, setelah beliau mengemukakan sebagian pendapat para pakar ulama usul fiqih perihal syarat-syarat ijtihad, berkomentar,” untuk mencapai syarat-syarat ijtihad seperti yang disebutkan itu bukan merupakan hal yang sulit dan lebih berat bila dibandingkan usaha orang-orang yang hendak mencapai gelar-gelar yang tinggi dalam suatu disiplin ilmu menurut ulama zaman sekarang yang hidup di tengah-tengah negara maju, seperti ilimu hukum, kedokteran, dan filsafat. Sekalipun demikian, kita masih bisa melihat mayoritas ulama yanng masih suka taklid sebagai penghambat tercapainya ijtihad ini, sehingga jiwa para mahasisiwa tidak lagi berorientasi untuk mencapai tingkat ijtihad tersebut[17].”
2)           Al-Allamah Al- Hujwi Al-Fasi dalam bukunya Al-Fikr Al- Saamii Fii Tarikh Al-Fiqih Al-Islam, setelah menngemukakan pendapat dari Ibn Abdiss salam, mengatakan,”sesungguhnya materi ijtihad pada zaman sekarang ini lebih mudah di bandingkan pada zaman ulama terdaulu, sekiranya allah berkenan memberi petunjuk.” Pendapat senada juga di kemukakan oleh Ibnu Urfah, seperti yang di kutip oleh Al-Ubay dalam syarh muslim.
3)           Al-Alamah Prof. Akhmad Ibrahim Bek, dalam bukunya ilmu ushul al-fiqh berkomentar,” ketahuilah, bahwa sekarang di hadapan kita terdapat simpanan yang sangat berharga berupa karya-karya yang bermutu tinggi seperti tafsir,ensiklopedia, sunnah dan syarah hadits, yang kesemuanya itu tidak mudah di dapatkan pada, periode ulama salaf. Dimana salah seorang diantara mereka harus mengadakan perlawatan ke suatu negeri yag terpencil dalam rangka mencari satu atau dua buah hadits. Dedmikian pula, telah di susun berbagai kamus penghimpun kata-kata sulit yang terdapat pada al-qur’an dan al-khadits. Disusun pula kitab-kitab himpunan dari hadits-hadits hukum yang di sertai dengan penafsiran dan penjelasan secara panjang lebar. Dengan demikian, dapat di katakan kita sekarang hanya tinggal berpangku tangan, sementara di hadapan kita tersedia bertumpuk aneka ragam buku seperti telah di sebutkan tadi.
         Oleh karena itu, jika kiata selalu mengacu kepada karunia allah, maka tidaklah mengherankan bila diantara ulama masa sekarang ini mencapai ijtihad mutlak. Betapa banyak persoalan yang di wariskan oleh orang-orang terdahulu bagi orang yahng datang kemudian. Bahkan orang terkemudian itu dapat saja mengungguli pendahulunya. Perhatikan ungkapan bijak berikut ini:
“ katakanlah bagi orang yang tidak medlihazt apapun dari yang modern dam melihat segala sesuatu pada orang terdahulu.Sesungguhnya yang dahulu, tadinya adalah baru. Dan yang baru itupun akan menjadi lama.”
         Disebutkan dalam hadits riwayat akhmad, tirmidzi, dari Nabi muhammad SAW.
مثل أمتى مثل المطرى لايدرى أوله خير أم أخيره (رواه احمد و الترمذي)
“Perumpamaan umatku bagaikan hujan yang tidak di ketahui, apakah yang aal itu baik ataukazh yang terakhir itu yang baik ?”.[18]











BAB III
KESIMPULAN
     Syarat-syarat ijtihad yang harus terpenuhi oleh seorang mujtahid menurut tiga ulama terkemuka:

1.      الامام الغزالي
a.              Seorang mujtahid harus mengetahui tentang hukum-hukum syara’
b.               Seorang mujtahid harus adil dan juga harus menjauhi perbutan ma’siat
2.  الامام الشا طبي
              a.  Bisa menggali suatu hukum atas dasar pemahaman seorang mujtahid.
b. Bisa memahami tujuan syariat secara sempurna,
3.  الامام الامدي والبيضوي
a. Seorang mujtahid harus mukallaf, iman kepada allah SWT dan rosululloh SAW.
b. Seorang mujtahid harus bisa memahami dan mengerti tentang hukum syariat islam serta dalil yang menunjukan pada keabsahan hukum syariat
         Sedangkan menurut kesepakatan para ulama ushul fiqih seorang mujtahid untuk bisa mencapai tingkatan mujtahid harus memenuhi syarat yang ada di bawah ini:
a.   Mengetahui bahasa arab
b.   Mengetahui pengetahuan yang mendalam tentang al-qur’an
c.   Memiliki pengetahuan yang memadai tentang al-sunnah
d.  Mengetahui letak ijma’ dan  khilaf
e.   Mengetahui maqashid al-syar’iah
f.    Memiliki pemahaman dan penalaran yang benar
g.   Memiliki pengetahuan tentang ushul fiqih
h.   Mengetahui manusia dan kehidupan sekitarnya
i.     Memiliki niat dan i’tiqad yang benar.
      Pada zaman sekarang seseorang melakukan ijtihad sangatlah mungkin di lakukan setiap orang, karena dunia yang semakin modern dan berkembang, maka suatu hukum islam pun akan berkembang dengan sendirinya. Ada dari sebagian para ulama yang mengungkapkan kata-kata bijak seperti yang ada di bawah ini:
“Perupamaan umatku bagaikan hujan yang tidak di ketahui, apakah yang awal itu baik, ataukah yang terakhir itu yang baik”    

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Dr Saiban MA. 2005, metode ijtihad ib Dr. ibnu rusydy, kutub minar
Ijtihad kontemporer Dr yusuf Qordlowi, Kode etik dan berbagai penyimpangan risalah Gusti
DRs. Ma’sum zein, muhammad MA, 2008, darul khikmah jombang dan maktabah al-syarifah al-qodjah
Abu zahra, Ali 1997 ushul al- tasyri’ Islami dar al- fikr al- arabi
Dr. wahbah zuhaili, ushul fiqih islami, juz 1, daar al- fikr, al- mangasyir,


[1],وقد التزم طريقته الخضرى فى كتاب اصول الفقه 357  المستصفى 2/102
[2] الموافقات 4/105-106
[3], شرح الاسنوى للمنهاج (نهاية السؤل 3/244 الاحكام فى اصول الاحكام 3/139
[4] Lihat al-qur’an surat al-syura’ ayat 7
[5] Muhammad al-syaukani, irsyad al-fukhul ila tahqiq al-khaq min ‘ilm ushul(daar al-fikr hal.252)
[6][6] Abu Khamid Al-Ghozali op. Cit.hal 479
[7] Lihat Al- Qur’an ayat 44
[8] Abu Khamid Al-Ghozalliop.cit, hal 490
[9] Lihat Al-Qur’an surat al-anbiya’ ayat 107
[10] Mukhammad abu zahrah,op,cit,hal 368
[11] Ibid                                            
[12] Sya’ban Muhammad isma’il,op,cit, hal 29-30
[13] ‘ilm ushul fiqh darul kutub al-ilmiah, jld 2, hal 36
[14] Yusuf al-qardawi,al-itihad al-syar’iahz al-isalamiah,op,cit, hal 61
[15] Mukhammad abu zahra, op, cit,hal 388
[16] Sya’ban muhammad isma’il, op, cit, hal 32
[17] Tafsir al-manar,juz 5, cet. ke-3, hal 205
[18] Al-jami’ menisbatkan hadits ini kepada akhmad dan tirmidzi dari hadits annas, dan kepada akhmad dari ‘ammar. Ibn hajar dalam fathu al-bari berkomentar, “hadi ts itiu hasan, karena memiliki bebrapa jalan yang dapat naik pada tingkat shahih.”(Faidh Al-Qadir,jil 5, hal 517

Tidak ada komentar: