Translate

PENGERTIAN DAN OBYEK USHUL AL-FIQH

PEMBAHASAN
A.Definisi ushul fiqh
Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu : kata Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu Syari'ah.  
Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi  ushul bagi fiqh.
Definisi Ushul
            Definisi Al-ashlu secara bahasa adalah sesuatu yang dijadikan pijakan oleh sesuatu yang lain[1].Ushul fiqh adalah pijakan (asas)fiqh.Sedangkan Al-far’u adalah sesuatu yang berpijak pada sesuatu yang lain. Jadi, fiqh itu berpijak pada ushul fiqh.
            Definisi Al-ashlu secara istilah syara’mengandung makna,yaitu Dalil[2] dan Qa’idah kulliyah[3] (umum). Contoh kata ashal yang bermakna dalil : ashal kewjiban sholat adalah Al-qur’an . Kata ‘Ashal’disini bermakna dalil yakni dalil kewajiban sholat adalah: firman ALLAH SWT
القموا الصلاة       
Contoh kata ashal yang bermakna Qa’idah kulliyah:Halalnya daging bangkai bagi orang yang terpaksa,bertentangan dengan ashal,Kata “ashal”disini bermakna kulliyah yaitu
 ………كل مية حرم (setiap bangkai itu haram). qo’idah kulliyah ini adalah firman Allah SWT:
انماحرم عليكم الميتة                                          
Sessungguhnya Allah telah mengharamkan bangkai bagi kamu semua [4]
B.DEFINISI FIQH
             Definisi fiqh secara bahasa adalah paham. Definisi fiqh secara istilah adalah paham.Definisi fiqh menurut istilah syara’ adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum sayari’at islam yang di peroleh dengan cara berijtihad
Contoh dalil kewajiban niat adalah Hadist:
                                                          انما الاعمال بالنية               
Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niyatnya.(HR.Bukhori-Muslim)
C. DEFINISI USHUL FIQH
            Definisi ushul fiqh adalah dalil fiqh yang bersifat global (garis besar).contoh :perintah (amar) yang muthlaq itu menunjukan makna wajib ; larangan (nahyi) yang mutlaq itu menunjukan makna haram ; perbuatan Nabi SAW , Ijma’ dan qiyas yang mutlhaq iyu dapat di j`dikan hujjah (argumentasi atau hukum islam)
            Tidak lepas dari kandungan pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata tersebut, para ulama ahli Ushul Fiqh memberi pengertian sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu syari'ah. Misalnya Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul Fiqh
             Dengan lebih mendetail, dikatakan oleh Muhammad Abu Zahrah bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'. Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh juga dikatakan :

Artinya:
"Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara'."
C. Tujuan Ushul Fiqh

           Setelah mengetahui definisi ushul fiqh beserta pembahasannya, maka sangatlah penting untuk mengetahui tujuan dan kegunaan ushul fiqh. Tujuan yang ingin dicapai dari ushul fiqh yaitu untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dali syara’ yang terperinci agar sampai pada hukum-hukum syara’ yang bersifat amali. Dengan ushul fiqh pula dapat dikeluarkan suatu hukum yang tidak memiliki aturan yang jelas atau bahkan tidak memiliki nash dengan cara qiyas, istihsan, istishhab dan berbagai metode pengambilan hukum yang lain. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai pertimbangan tentang sebab terjadinya perbedaan madzhab diantara para Imam mujathid. Karena tidak mungkin kita hanya memahami tentang suatu hukum dari satu sudut pandang saja kecuali dengan mengetahui dalil hukum dan cara penjabaran hukum dari dalilnya. Para ulama terdahulu telah berhasil merumuskan hukum syara’ dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada dan terjabar secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh. Kemudian apa kegunaan ilmu ushul fiqh bagi masyarakat yang datang kemudian?. Dalam hal ini ada dua maksud kegunaan, yaitu:
Pertama, apabila sudah mengetahui metode-metode ushul fiqh yang dirumuskan oleh ulama terdahulu, dan ternyata suatu ketika terdapat masalah-masalah baru yang tidak ditemukan dalam kitab terdahulu, maka dapat dicari jawaban hukum terhadap masalah baru itu dengan cara menerapkan kaidah-kaidah hasil rumusan ulama terdahulu.
Kedua, apabila menghadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab fiqh, akan tetapi mengalami kesulitan dalam penerapannya karena ada perubahan yang terjadi dan ingin merumuskan hukum sesuai dengan tuntutan keadaan yang terjadi, maka usaha yang harus ditempuh adalah merumuskan kaidah yang baru yang memungkinkan timbulnya rumusan baru dalam fiqh. Kemudian untuk merumuskan kaidah baru tersebut haruslah diketahui secara baik cara-cara dan usaha ulama terdahulu dalam merumuskan kaidahnya yang semuanya dibahas dalam ilmu ushul fiqh
D.SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH
1.PERKEMBANGAN USHUL FIQH
             Setelah Islam berkembang dan meluas, dan bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain, maka dibuatlah peraturan-peraturan/kaedah bahasa Arab. Hal ini, selain untuk menjaga orisinilitas bahasa itu sendiri sebagai bahasa Al-Qur'an , juga untuk memelihara dari pengaruh bahasa lain, serta untuk lebih mempermudah bagi bangsa lain mempelajarinya.

               Disamping hal-hal tersebut, banyak pula peristiwa-peristiwa yang timbul dalam lapangan kehidupan, sehingga ulama-ulama yang tersebar diberbagai negeri-negeri baru itu ada yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh lingkungan dan tempatnya berada. Karenanya, masing-masing ulama dalam melakukan ijtihad (pembicaraan tentang pembentukan atau pengembangan hukum) dan pengambilan keputusan hukum/istimbath berjalan sendiri-sendiri yang dipandangnya benar sesuai kapasitas keilmuan yang dimilikinya.Keadaan seperti ini tentu saja menimbulkan perbedaan pendapat, baik sebagai keputusan hakim maupun sebagai fatwa, bukan hanya antara satu negri dengan negri yang lain, bahkan antara satu daerah dengan daerah lain dalam satu negeri.
       
2. Sejarah Ushul Fiqih   
             Akibat dari perbedaan-perbedaan pendapat para ulama, timbullah satu pemikiran untuk membuat peraturanperaturan dalam ijtihad dan penetapan hukum, yang pada gilirannya dapat diperoleh pendapat yang benar dan setidak-tidaknya agar dapat memperpendek jarak perbedaan-perbedaan pendapat tersebut. Dan peraturan-peraturan tersebut dikenal sebagai ilmu Ushul Fiqih. Ilmu ini diperkenalkan pada abad ke tiga Hijriah secara sistematis oleh imam Syafi'i rahimahullah yang kemudian dianggap sebagai perintis atau bapak yurisprudensi dalam Islam. Dan berdasar nash pula para mujtahid mengambil 'illat/sebab yang menjadi landasan hukum serta mencari maslahat yang menjadi tujuan hukum/maqashid al syari'ah, sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Qur'an maupun Sunnah Nabi SAW.

E. TOPIK DAN RUANG LINGKUP USHUL FIQH
            Topik dan ruang lingkup pembahasan ilmu Ushul Fiqh meliputi :
a. Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi (wajib, sunnat, mubah, makruh, haram) dan hukum wadl’i (sabab, syarat, mani’, ‘illat, shah, batal, azimah dan rukhshah).
b. Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenal hukum (mahkum fihi) seperti apakah perbuatan itu sengaja atau tidak, dalam kemampuannya atau tidak, menyangkut hubungan dengan manusia atau Tuhan, apa dengan kemauan sendiri atau dipaksa, dan sebagainya.
c. Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum ‘alaihi) apakah pelaku itu mukallaf atau tidak, apa sudah cukup syarat taklif padanya atau tidak, apakah orang itu ahliyah atau bukan, dan sebagainya.
d. Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi
keadaan yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha manusia yang pertama disebut awarid muktasabah, yang kedua disebut awarid samawiyah.
e. Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, takwil dalalah lafazh, mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, nasikh danmansukh,dan sebagainya.
f. Masalahra’ yu,ijtihad,ittiba’ dantaqlid; meliputi kedudukan ra’yu dan batas-batas penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid, bahaya taqlid dan sebagainya.
g. Masalah adillah syar’iyah, yang meliputi pembahasan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-’urf, syar’u man qablana, bara’atul ashliyah, sadduz zari’ah, maqashidus syari’ah/ususus syari’ah.
h. Masa’alah al-ra’yu dan qiyas; meliputi. ashal, far’u, illat, masalikul illat, al-washful munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul fariq; dan selanjutnya dibicarakan masalah ta’arudl wat tarjih dengan berbagai bentuk dan penyelesaiannya.

F.Obyek Pembahasan Ushul Fiqih
Sesuai dari keterangan tentang pengertian ilmu Ushul Fiqih, maka yang menjadi obyek pembahasan ilmu Ushul Fiqih meliputi:

(1).
الادلة: Pembahasan tentang dalil-dalil/hukum syara', yaitu macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari ragam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya.
(a).Mutafaq ‘alaih(yaitu dalil yang di sepakati)
(b).mukhtalaf hadis.
Yaitu hadist hadist yang masih di perdebatkan ke shohihannya

(2).
الاحكم ما يتعلق فيه  Pembahasan tentang hukum, yaitu pembahasan secara umum, tidak dibahas secara rinci bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang hukum ini meliputi macam-macam hukum dan syarat-syaratnya. Dan dalam hal ini dibagi kepada:

a). Yang menetapkan hukum/al hakim ( yaitu Allah SWT). "Inna al hukmu illalloh". Q.S. al An'am. A.57
b). Obyek hukum atau perbuatan yang dihukumkan/mahkum fih, yaitu perbuatan-perbuatan orang mukallaf yang dihukumkan padanya, sebagai akibat dari bermacam isi dan maksud yang terkandung dalam firman Allah dan sabda Nabi Muhammad SAW.

c). Subyek hukum atau yang menanggung hukumnya/mahkum 'alaih, yaitu orang mukallaf, dimana perbuatannya menjadi tempat berlakunya hukum Allah. Seperti misalnya, firman Allah "aqimus sholah."/dirikan shalat. Perintah ini ditujukan kepada orang mukallaf yang dapat mengerjakan shalat, bukan ditujukan kepada anak-anak atau orang gila. Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, bagaimanapun juga macamnya, tidak dibebankan kecuali kepada orang yang mempunyai kemampuan. Karenanya kemampuan orang mukallaf menjadi dasar adanya taklif/pertanggungan jawab.
(3).
طريقة الاستنبط  adalah daya usaha membuat keputusan hukum syarak berdasarkan dalil-dalil al-Quran atau Sunnah yang sedia ada. Pembahasan tentang kaedah (= teori yang diambil dari atau menghimpun masalah-masalah fiqih yang bermacam-macam sebagai hasil ijtihad para mujtahid), yaitu yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh hukum dari dalil-dalilnya, antara lain mengenai ragamnya, kehujahannya dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.

(4)
.الاجتهاد adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang Pembahasan tentang ijtihad, yaitu pembicaraan tentang berbagai hal, syarat-syarat bagi orang yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kacamata ijtihad dan hukum-hukum melakukan ijtihad.
 
G. MANFAAT MEMPELAJARI USHUL FIQH
Manfaat atau kegunaan mempelajari Usul Fiqh adalah :
a).  Ilmu Agama Islam akan hidup dan berkembang mengikuti perkembangan peradaban umat manusia.
b).  
Statis dan jumud dalam ilmu pengetahuan agama dapat dihindarkan.
c).  Orang dapat menghidangkan ilmu pengetahuan agama sebagai konsumsi umum dalam dunia pengetahuan yang selalu maju dan berkembang mengikuti kebutuhan hidup manusia sepanjang zaman.
d).  Sekurang-kurangnya, orang dapat memahami mengapa para Mujtahid zaman dulu merumuskan Hukum Fiqh seperti yang kita lihat sekarang. Pedoman dan norma apa saja yang mereka gunakan dalam merumuskan hukum itu. Kalau mereka menemukan sesuatu peristiwa atau benda yang memerlukan penilaian atau hukum Agama Islam, apa yang mereka lakukan untuk menetapkannya; prosedur mana yang mereka tempuh dalam menetapkan hukumnya. Dengan demikian orang akan terhindar dari taqlid buta; kalau tidak dapat menjadi Mujtahid, mereka dapat menjadi Muttabi’ yang baik, (Muttabi’ ialah orang yang mengikuti pendapat orang dengan mengetahui asal-usul pendapat itu).
Dengan demikian, berarti bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam pengembangan dan pengamalan ajaran Islam di dunia yang sibuk dengan perubahan menuju modernisasi dan kemajuan dalam segala bidang.


BAB III
KESIMPULAN

Ushul fiqh adalah ilmu pengetahuan tentang kaidah-kaidah dan metode penggalian hukum-hukum syara mengenai perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci atau kumpulan kaidah-kaidah tentang hal-hal tersebut.Secara garis besar objek bahasan ushul fiqih adalah sumber hukum syara dengan semua seluk beluknya, Metode pendayagunaan sumber hukum atau metode penggalian hukum dari sumbernya, dan Persyaratan orang-orang yang berwenang melakukan istinbath.
Secara rinci ushul fiqih berfungsi sebagai berikut :
• Memberikan pengertian dasar tentang kaidah-kaidah dan metodologi para ulama mujtahid
dalam menggali hukum.
• Menggambarkan persyaratan yang harus dimiliki seorang mujtahid.
• Member bekal untuk menentukan hukum-hukum yang baru.
• Mengetahui keunggulan dan kelemahan para mujtahid, sejalan dengan dalil yang mereka gunakan, dengan demikian kita bisa memilih pendapat mereka.
Peranan ushul fiqih terhadap pengembangan fiqih islam dapat dikatakan sebagai penolong faqih dalam mengeluarkan hukum,-hukum syara dari dalil-dalilnya. Dan bisa juga dikatakan sebagai kerangka acuan yang dapat digunakan sebagai pengembangan pemikiran fiqih islam.
BAB I
Definisi ushul fiqh
Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu : kata Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu Syari'ah.  
Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi  ushul bagi fiqh.
Definisi Ushul
            Definisi Al-ashlu secara bahasa adalah sesuatu yang dijadikan pijakan oleh sesuatu yang lain[1].Ushul fiqh adalah pijakan (asas)fiqh.Sedangkan Al-far’u adalah sesuatu yang berpijak pada sesuatu yang lain. Jadi, fiqh itu berpijak pada ushul fiqh.
            Definisi Al-ashlu secara istilah syara’mengandung makna,yaitu Dalil[2] dan Qa’idah kulliyah[3] (umum). Contoh kata ashal yang bermakna dalil : ashal kewjiban sholat adalah Al-qur’an . Kata ‘Ashal’disini bermakna dalil yakni dalil kewajiban sholat adalah: firman ALLAH SWT
القموا الصلاة       
Contoh kata ashal yang bermakna Qa’idah kulliyah:Halalnya daging bangkai bagi orang yang terpaksa,bertentangan dengan ashal,Kata “ashal”disini bermakna kulliyah yaitu
 ………كل مية حرم (setiap bangkai itu haram). qo’idah kulliyah ini adalah firman Allah SWT:
انماحرم عليكم الميتة                                          
Sessungguhnya Allah telah mengharamkan bangkai bagi kamu semua [4]
B.DEFINISI FIQH
                             Definisi fiqh secara bahasa adalah paham. Definisi fiqh secara istilah adalah paham.Definisi fiqh menurut istilah syara’ adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum sayari’at islam yang di peroleh dengan cara berijtihad
Contoh dalil kewajiban niat adalah Hadist:
                                                          انما الاعمال بالنية               
Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niyatnya.(HR.Bukhori-Muslim)
C. DEFINISI USHUL FIQH
                             Definisi ushul fiqh adalah dalil fiqh yang bersifat global (garis besar).contoh :perintah (amar) yang muthlaq itu menunjukan makna wajib ; larangan (nahyi) yang mutlaq itu menunjukan makna haram ; perbuatan Nabi SAW , Ijma’ dan qiyas yang mutlhaq iyu dapat di jadikan hujjah (argumentasi atau hukum islam)

            Tidak lepas dari kandungan pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata tersebut, para ulama ahli Ushul Fiqh memberi pengertian sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu syari'ah. Misalnya Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul Fiqh
             Dengan lebih mendetail, dikatakan oleh Muhammad Abu Zahrah bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'. Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh juga dikatakan :

Artinya:
"Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara'."
c. Tujuan Ushul Fiqh

           Setelah mengetahui definisi ushul fiqh beserta pembahasannya, maka sangatlah penting untuk mengetahui tujuan dan kegunaan ushul fiqh. Tujuan yang ingin dicapai dari ushul fiqh yaitu untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dali syara’ yang terperinci agar sampai pada hukum-hukum syara’ yang bersifat amali. Dengan ushul fiqh pula dapat dikeluarkan suatu hukum yang tidak memiliki aturan yang jelas atau bahkan tidak memiliki nash dengan cara qiyas, istihsan, istishhab dan berbagai metode pengambilan hukum yang lain. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai pertimbangan tentang sebab terjadinya perbedaan madzhab diantara para Imam mujathid. Karena tidak mungkin kita hanya memahami tentang suatu hukum dari satu sudut pandang saja kecuali dengan mengetahui dalil hukum dan cara penjabaran hukum dari dalilnya. Para ulama terdahulu telah berhasil merumuskan hukum syara’ dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada dan terjabar secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh. Kemudian apa kegunaan ilmu ushul fiqh bagi masyarakat yang datang kemudian?. Dalam hal ini ada dua maksud kegunaan, yaitu:
Pertama, apabila sudah mengetahui metode-metode ushul fiqh yang dirumuskan oleh ulama terdahulu, dan ternyata suatu ketika terdapat masalah-masalah baru yang tidak ditemukan dalam kitab terdahulu, maka dapat dicari jawaban hukum terhadap masalah baru itu dengan cara menerapkan kaidah-kaidah hasil rumusan ulama terdahulu.
Kedua, apabila menghadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab fiqh, akan tetapi mengalami kesulitan dalam penerapannya karena ada perubahan yang terjadi dan ingin merumuskan hukum sesuai dengan tuntutan keadaan yang terjadi, maka usaha yang harus ditempuh adalah merumuskan kaidah yang baru yang memungkinkan timbulnya rumusan baru dalam fiqh. Kemudian untuk merumuskan kaidah baru tersebut haruslah diketahui secara baik cara-cara dan usaha ulama terdahulu dalam merumuskan kaidahnya yang semuanya dibahas dalam ilmu ushul fiqh
D.SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQH
1.PERKEMBANGAN USHUL FIQH
             Setelah Islam berkembang dan meluas, dan bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain, maka dibuatlah peraturan-peraturan/kaedah bahasa Arab. Hal ini, selain untuk menjaga orisinilitas bahasa itu sendiri sebagai bahasa Al-Qur'an , juga untuk memelihara dari pengaruh bahasa lain, serta untuk lebih mempermudah bagi bangsa lain mempelajarinya.

               Disamping hal-hal tersebut, banyak pula peristiwa-peristiwa yang timbul dalam lapangan kehidupan, sehingga ulama-ulama yang tersebar diberbagai negeri-negeri baru itu ada yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh lingkungan dan tempatnya berada. Karenanya, masing-masing ulama dalam melakukan ijtihad (pembicaraan tentang pembentukan atau pengembangan hukum) dan pengambilan keputusan hukum/istimbath berjalan sendiri-sendiri yang dipandangnya benar sesuai kapasitas keilmuan yang dimilikinya.Keadaan seperti ini tentu saja menimbulkan perbedaan pendapat, baik sebagai keputusan hakim maupun sebagai fatwa, bukan hanya antara satu negri dengan negri yang lain, bahkan antara satu daerah dengan daerah lain dalam satu negeri.
       
2. Sejarah Ushul Fiqih   
             Akibat dari perbedaan-perbedaan pendapat para ulama, timbullah satu pemikiran untuk membuat peraturanperaturan dalam ijtihad dan penetapan hukum, yang pada gilirannya dapat diperoleh pendapat yang benar dan setidak-tidaknya agar dapat memperpendek jarak perbedaan-perbedaan pendapat tersebut. Dan peraturan-peraturan tersebut dikenal sebagai ilmu Ushul Fiqih. Ilmu ini diperkenalkan pada abad ke tiga Hijriah secara sistematis oleh imam Syafi'i rahimahullah yang kemudian dianggap sebagai perintis atau bapak yurisprudensi dalam Islam. Dan berdasar nash pula para mujtahid mengambil 'illat/sebab yang menjadi landasan hukum serta mencari maslahat yang menjadi tujuan hukum/maqashid al syari'ah, sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Qur'an maupun Sunnah Nabi SAW.

E. TOPIK DAN RUANG LINGKUP USHUL FIQH
Topik dan ruang lingkup pembahasan ilmu Ushul Fiqh meliputi :
a. Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi (wajib, sunnat, mubah, makruh, haram) dan hukum wadl’i (sabab, syarat, mani’, ‘illat, shah, batal, azimah dan rukhshah).
b. Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenal hukum (mahkum fihi) seperti apakah perbuatan itu sengaja atau tidak, dalam kemampuannya atau tidak, menyangkut hubungan dengan manusia atau Tuhan, apa dengan kemauan sendiri atau dipaksa, dan sebagainya.
c. Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum ‘alaihi) apakah pelaku itu mukallaf atau tidak, apa sudah cukup syarat taklif padanya atau tidak, apakah orang itu ahliyah atau bukan, dan sebagainya.
d. Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi
keadaan yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha manusia yang pertama disebut awarid muktasabah, yang kedua disebut awarid samawiyah.
e. Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, takwil dalalah lafazh, mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, nasikh danmansukh,dan sebagainya.
f. Masalahra’ yu,ijtihad,ittiba’ dantaqlid; meliputi kedudukan ra’yu dan batas-batas penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid, bahaya taqlid dan sebagainya.
g. Masalah adillah syar’iyah, yang meliputi pembahasan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-’urf, syar’u man qablana, bara’atul ashliyah, sadduz zari’ah, maqashidus syari’ah/ususus syari’ah.
h. Masa’ahra’yu dan qiyas; meliputi. ashal, far’u, illat, masalikul illat, al-washful munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul fariq; dan selanjutnya dibicarakan masalah ta’arudl wat tarjih dengan berbagai bentuk dan penyelesaiannya.

F.Obyek Pembahasan Ushul Fiqih
Sesuai dari keterangan tentang pengertian ilmu Ushul Fiqih, maka yang menjadi obyek pembahasan ilmu Ushul Fiqih meliputi:

(1).
الادلة. Pembahasan tentang dalil-dalil/hukum syara', yaitu macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari ragam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya.
(a).Mutafaq ‘alaih(yaitu dalil yang di sepakati)
(b).mukhtalaf hadis(Yaitu hadist hadist yang masih di perdebatkan ke shohihannya)

(2).
الاحكم ما يتعلق فيه  Pembahasan tentang hukum, yaitu pembahasan secara umum, tidak dibahas secara rinci bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang hukum ini meliputi macam-macam hukum dan syarat-syaratnya. Dan dalam hal ini dibagi kepada:

a). Yang menetapkan hukum/al hakim ( yaitu Allah SWT). "Inna al hukmu illalloh". Q.S. al An'am. A.57
b). Obyek hukum atau perbuatan yang dihukumkan/mahkum fih, yaitu perbuatan-perbuatan orang mukallaf yang dihukumkan padanya, sebagai akibat dari bermacam isi dan maksud yang terkandung dalam firman Allah dan sabda Nabi Muhammad SAW.

c). Subyek hukum atau yang menanggung hukumnya/mahkum 'alaih, yaitu orang mukallaf, dimana perbuatannya menjadi tempat berlakunya hukum Allah. Seperti misalnya, firman Allah "aqimus sholah."/dirikan shalat. Perintah ini ditujukan kepada orang mukallaf yang dapat mengerjakan shalat, bukan ditujukan kepada anak-anak atau orang gila. Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, bagaimanapun juga macamnya, tidak dibebankan kecuali kepada orang yang mempunyai kemampuan. Karenanya kemampuan orang mukallaf menjadi dasar adanya taklif/pertanggungan jawab.
(3).
طريقة الاستنبط  adalah daya usaha membuat keputusan hukum syarak berdasarkan dalil-dalil al-Quran atau Sunnah yang sedia ada. Pembahasan tentang kaedah (= teori yang diambil dari atau menghimpun masalah-masalah fiqih yang bermacam-macam sebagai hasil ijtihad para mujtahid), yaitu yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh hukum dari dalil-dalilnya, antara lain mengenai ragamnya, kehujahannya dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.

(4)
.الاجتهاد adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang Pembahasan tentang ijtihad, yaitu pembicaraan tentang berbagai hal, syarat-syarat bagi orang yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kacamata ijtihad dan hukum-hukum melakukan ijtihad.
 
G. MANFAAT MEMPELAJARI USHUL FIQH
Manfaat atau kegunaan mempelajari Usul Fiqh adalah :
a).  Ilmu Agama Islam akan hidup dan berkembang mengikuti perkembangan peradaban umat manusia.
b).  
Statis dan jumud dalam ilmu pengetahuan agama dapat dihindarkan.
c).  Orang dapat menghidangkan ilmu pengetahuan agama sebagai konsumsi umum dalam dunia pengetahuan yang selalu maju dan berkembang mengikuti kebutuhan hidup manusia sepanjang zaman.
d).  Sekurang-kurangnya, orang dapat memahami mengapa para Mujtahid zaman dulu merumuskan Hukum Fiqh seperti yang kita lihat sekarang. Pedoman dan norma apa saja yang mereka gunakan dalam merumuskan hukum itu. Kalau mereka menemukan sesuatu peristiwa atau benda yang memerlukan penilaian atau hukum Agama Islam, apa yang mereka lakukan untuk menetapkannya; prosedur mana yang mereka tempuh dalam menetapkan hukumnya. Dengan demikian orang akan terhindar dari taqlid buta; kalau tidak dapat menjadi Mujtahid, mereka dapat menjadi Muttabi’ yang baik, (Muttabi’ ialah orang yang mengikuti pendapat orang dengan mengetahui asal-usul pendapat itu).
Dengan demikian, berarti bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam pengembangan dan pengamalan ajaran Islam di dunia yang sibuk dengan perubahan menuju modernisasi dan kemajuan dalam segala bidang.



KESIMPULAN

Ushul fiqh adalah ilmu pengetahuan tentang kaidah-kaidah dan metode penggalian hukum-hukum syara mengenai perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci atau kumpulan kaidah-kaidah tentang hal-hal tersebut.Secara garis besar objek bahasan ushul fiqih adalah sumber hukum syara dengan semua seluk beluknya, Metode pendayagunaan sumber hukum atau metode penggalian hukum dari sumbernya, dan Persyaratan orang-orang yang berwenang melakukan istinbath.
Secara rinci ushul fiqih berfungsi sebagai berikut :
• Memberikan pengertian dasar tentang kaidah-kaidah dan metodologi para ulama mujtahid
dalam menggali hukum.
• Menggambarkan persyaratan yang harus dimiliki seorang mujtahid.
• Member bekal untuk menentukan hukum-hukum yang baru.
• Mengetahui keunggulan dan kelemahan para mujtahid, sejalan dengan dalil yang mereka gunakan, dengan demikian kita bisa memilih pendapat mereka.
Peranan ushul fiqih terhadap pengembangan fiqih islam dapat dikatakan sebagai penolong faqih dalam mengeluarkan hukum,-hukum syara dari dalil-dalilnya. Dan bisa juga dikatakan sebagai kerangka acuan yang dapat digunakan sebagai pengembangan pemikiran fiqih islam.
Daftar pustaka
Abdul hamid hakim, mabadiul awaliyyah, tth                                                         
 Nata,Abudin, 1998, Metodologi Studi Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Bakery, Najar, 2003, Fiqih Dan Ushul Fiqih, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Karim, Syafi’i, 2001, Fiqih Dan Ushul Fiqih, Bandung : CV. Pustaka Setia.
Syafi’i, Rahmat, 2007, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : CV. Pustaka Setia.
Dzajuli, 2006, Ilmu Fiqih, Jakarta : Kencana Prenada Media.


[1] Mabadiul aawaliyah
[2] Wahbah,ibid,hal:16
[3] Wahbah ,ibid.
[4] .QS.2:173



[1] Mabadiul aawaliyah
[2] Wahbah,ibid,hal:16
[3] Wahbah ,ibid.
[4] .QS.2:173

Tidak ada komentar: