Translate

KARASTERISTIK ULAMA' USHUL FIQH


BAB I
PENDAHULUAN
       Ilmu Ushul Fiqh  sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pikiran. Dalam usaha menghasilkan hukum-hukum ‘amaly para fuqoha’ berusaha mengungkapkan jalan-jalan yang telah ditempuh oleh para mujtahidin dalam membentuk madzhabnya masing-masing. Karenanya kita bias mengatakan bahwa Ushul fiqh adalah ilmu yang mengungkapkan metode yang telah ditempuh para mujtahidin atuu bias katakn sebagai ilmu yang menjelaskan sumber-sumber hukum atu dasar-dasar Ilmu Fiqh. Hany saja saja dalam beristimbat para mujtahid memiliki cara dan cirri yang berbeda–beda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan inilah yang biasanya menimbulkan masalah bagi mereka-mereka yang dangkal ilmunya.
 Sesungguhny Alloh SWT. Meciptakan manusia dengan beraneka ragam bentuk yang antara satu dengan yang lainnya dari masa kemasa tidak ada kesamaan, hal itu bukan kelemahan Alloh tetapi justru merupakan tanda kebesaranNya jika kita tidak salah persepsi dalam mema -haminya .Oleh karena itu jika dalam realita yang ada kita sering menjumpai perbedaan, apapun itu bentuknya, marilah kita berusaha memandang hal itu sebagai sesuatu yang berharga yang patut kita lestarikan ,kita banggakan dan yang tidak kalah pentingnya kita pelajari hal-hal tersebut agar kita tidak selalu berpikir negatif dan heran ketika menjumpai hal-hal yang baru.
            Begitu juga dalam ilmu Usul Fiqih kita juga perlu mengkaji dan memahami secara mendalam perbedaan-perbedaan imam madzhab dan ulama’ mutaakkhirin dalam beristimbat yang hal itu merupakan kekayaan agama kita yang sebenarnya hal itu dapat membawa kemaslatan bagi umat, tapi ironisnya dewasa ini justru hal-hal yang sebaliknya yang sering kita jumpai. Perbedaan justru di tonjol-tonjolkan dan mangklaim pendapatnya paling benar, yang lain salah ,sesat dan bahkan mangkafirkan yang tidak seideologi dengan mereka dan hal itu sebenarnya hanya berawal dari ketidak tahuan mereka atas sumber perbedaan itu kebanyakan mereka hanya mengetahui produk jadi dari hasil istimbat tidak mengerti tatacara beristanbat dan ada juga golongan yang sudah memahami perbedaan tetapi mereka heran atas perbedaan tersebut mereka juga tidak tahu mengapa menurut madzhab ini begini dan menurut madhad situ begitu ?..
            Dengan memprtimbangkan hal-hal di atas saya kira sekarang ini perlu kita uraikan karakteristik para imam madzhab walau secara global dan tidak semuanya. karena mungkin dengan ini hal-hal yang kurang baik seperti yang saya uraikan diatas bisa sedikit kita kurangi .


BAB II
PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK MADZHAB STAFI’I, HANAFI DAN ULAMA’ MUTAAKHHIRIN
            Pada periode Imam mujtahid kemajuan diberbagai bidang dan keilmuan sudah tercapai di Negara-negara islam hal ini dapat dilihat dengan banyak bermunculannya imam mujtahid dalam berbagai keilmuan kIislaman oleh karena itu pada zaman itu dikenal dengan masa keemasan.
            Pada zaman itu pula metode-metode ijtihad yang bebeda-beda serta beraneka ragam bentuk dan ciri-cirinya dapat dibedakan secara jelas. begitu juga teori-tepri beristimbat mereka.
            Ushul Fiqh sunni tebagi menjadi dua bagian :
1.      Ushul Fiqh Hanafiyah
2.      Ushul Fiqh Syafi’iyah atau Ushul Fiqh Mutakallimin yang masuk kedalamnya golongan Malikiyah dan Hambaliyah

A. MADZHAB HANAFI
Madzhab hanafi adalah salah satu madzhab islam sunni. Madhab ini didirikan oleh imam abu hanifah yang bernama  abu hanifah bin nnu’man bin tsabit  al-taimi al- kufi dan terkenal dengan madzhab yang paling tebuka terhadap ide modern . walaupun pelajar islam dipenjuru dunia banyak yang belajar madzhab beliau  dan mengetahui bahwa madzhab beliau adalah madzhab terbesar  dengan 30% pengikut. madhab beliau hanya diamalkan terutama sekali dikalangan orang islam sunni mesir ,turki ,india ,tiongkok dan sebagian afrika barat .
Dasar-dasar beliau dalam menetapkan hukum fiqih dalam segi urutannya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Al-quran
2. Sunnah, dimana beliau hanya mengambil sunnah yang mutawattir/masyhur saja
3. Atsar /pendapat para sahabat
4. Ijma’
5. Qiyas
6. Istihsan
7. Urf (keadaan umum masyarakat muslim
Madzhab ini disebut dengan madzhab fuqoha’ karena dalam menyusun teorinya madhab ini banyak dipengarui oleh cabangan –cabangan yang ada dalam madzhab mereka. Ulama’ yang mempelajari madzhab  bertendensi pada kaidah-kaidah usul fiqih untuk mengkiaskan masalah-masalah cabang madzhabnya. Dengan demikian  mereka menjadikan kaidah –kaidah mereka sebagai alat legitimasi dan sebagai argumentasi. Diantara mereka  membuat kaidah – kaidah usul untuk menguatkan furu’ yang telah ada ,untuk menshohihkan istimbat yang telah dilakukan terlebih dahulu buat mempertahankan apa yang telah jadi anutan. Wal hasil mempelajari usul fiqih  sebagai sumber bagi fiqih  yang telah ada . pedoman atau pokok pegangan madzhab ini dinamakan thariqh hanafiah karena merekalah yang membuatnya dan yang menjalaninya .
Diantara contoh yang dibuat untuk mempertahankan furu’ ,ialah menetapkan dalalah ‘am adalah qot’iyah. Dengan demikian dilemahkan hadits ahad yang dalalahnya dhonniyah .
Sebagian ulama’ mengatakan  bahwasannya golongan Hanafiyah tidak mempunyai usul  fiqh  yang tersusun dimasa istimbath. Kitab-kitab yang disusun pleh imam-imam madzhab Hanafi tidak kita temukan lagi. Sesudah Ash-Syfi’I datang dan menyusun Ilmu Usul ,barulah tokoh-tokoh Hanafyah  membuat usul .[1]
Uraiaan Ad Dahlaway, dalam kitabnya al ihsan menggambarkan bahwa Imam Hanafiah tidak mengemukakan bagi usul-usul mereka.
Pedoman dan pokok pagangan Hanafiyah merupakan alat memelihara furu’ yang telah ditetapkan imam. Ulama’-ulama’ Hanafiyah membuat kaedah yang menguatkan mdzhab an mengatakan itulah usul mereka. Jalan ini banyak faedahnya.
Diantara kegunaannya, ialah :
a.       Menerangkan dasar-dasar ijtihad dan kaedah-kaedah yang berdiri sendiri yang memungkinkan kita untuk membandingkan dengan kaedah-kaedah yang lain.
b.      Menerangkan kaedah-kaedah yang diterangkan kepada furu’. Dia dapay dikatakan  buhuts kuliyah dan qodloya ‘ammah yang diterapkan kepada furu’.
c.       Dirosah Ushul ini, adalah dirosah fiqhiyah kulliyah muqoronah( studi banding  yang menyeluruh )karena selalu dipautkan kekhususan ( juz’iyah) dengan keumumannya (kulliyah).
d.      Menyatakan bagaimana ditahrijkan hukum,ditumbuhkan furu’ dan hokum, untuk masalah-masalah yang tidak terjadi dimasa imam.
B. MADZHAB SYAFI’I
            Madzhab ini dicetuskan oleh Muhammad bin Idris As-Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan Imam syafi’I. madzhab ini kebanyakan dianut para penduduk mesir bawah,arab Saudi bagian barat, Syuriah, Indonesia, Malaysia, Brunai, Pantai Koro Mandel, Malabar, Hadra maut, dan Bahrain.
Sejarah pemikiran fiqh madhab ini di awali oleh imam Syafi’I yang hidup di zaman pertentangan antara alliran ahlul hadist ( cenderung berpegangan pada teks hadist ) dan ahlul ro’yi (cenderung berpegang pada akal pikiran). Imam Syafi’I belajar kepada Imam Malik dan Hasan As-syaibani sebagai tokoh ahlul ro’yi yang juga murid Imam Abu hanifah. imamSyafi’I kemudian dia merumuskan aliran atau madzhabnya sendiri, yang dapat di katakan berada diantara kedua kelompok tersebut.[2] Imam Syafi’I menolak istihksan dari Imam Abu hanifah mau pun maslakhah mursalah dariIimam Malik namun demikian madzhab Syafi’I menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Meski[pun berbeda dari kedua aliran utama tersebut keunggulan imamSyafi’I sebagai ulama fiqh, ushul fiqh dan hadist di zamannya membuat madzhabnya memperoleh banyak pengikut dan keilmuannya di akui oleh berbagai ulama yang hidup sezaman dengannya
            Dasar dasar madzhab syafi’I dapat di lihat dalam kitab ushul fiqh ar risyalah dan kitab al umm. Di dalam kitab kitab tersebut beliau menjelaskan kerangka dan prinsip madzhabnya serta contoh merumuskan hukum far’iyah (yang bersifat cabang). Dasar dasar madzhab imam Syafi’I yang pokok iyalah berpegang pada hal hal berikut:
1.      Al-qur’an, tafsir secara lahiriyyah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang di maksud bukan arti lahiriyah. Imam Syafi’I pertama kali  selalu mencari alasanya dari Al-qur’an dalam menetapkan hukum islam
2.      Sunnah dari Rosululloh SAW. Di gunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-qur’an. Imam Syafi’I sangat kuat membela hadist / sunnah sehingga dijuluki “Nashir as-sunah” (pembela sunah nabi)
3.      Ijma’ atau kesepakatan shahabat nabi yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma yang diterima imam Syafi’I sebagai landasan hukum adalah ijma para sahabat bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hokum
4.      Qiyas yang dalam ar-Risalah disebutkan sebagai ijtihad, apabila dalam ‘ijma’ tidak ditemukan hukumnya.
Imam Syfi’I menolak istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum.
Imam Syfi’I membagi dasar-dasar tersebut menjadi lima bagian :
1.    Martabat petama  Kitab dan Sunnah
2.    Martabat kedua Ijma’
3.    Martabat ketiga Pendapat sebagian sahabat yang tidak ada yang menolaknya
4.    Martabat keempa Pendapat sahabat yang ditolak oleh sahabat juga
5.    Martabat kelima Qiyas, mengkiaskan suatu hukum kepada hukum yang telah       ditetapkan oleh salah satu ketetapan diatas.[3]
Madzhab Syafi’I adalah permulaan Imam yang menetapkan dasar-dasar tasri’ lepas dari pengaruh furu’dan kaedah Ushulnya pun juga tidak ditundukkan kebawah furu’.Kaedah Ushul dipelajari sebagai hakim bagi furu’,sebagai sokoguru bagi fiqh. Usaha tersebut menjadi jalan yang lebar yang harus ditempuh oleh mereka yang hendak berijtihaf.
 Jalan ini juga dinamakan  jalan Mutakallimin karena banyak ulama’ kalam yang membahas ilmu ini selain itu dalam madzhab ini mereka juga menemukan dasar-dasar yang sesuai dengan pendirian mereka, yaitu mengutamakan akal mereka membahas ilmu Ushul sebagaimana mereka membahas ilmu kalam.

C. ULAMA’ MUTAAKHIRIN

            Setelah kedua cara tersebut menjadi jalan yang ditempuh oleh kedua kedua golongan, lahirlah kitab-kitab yang mengkompromikan kedua jalan itu. Kitab-kitab itu ada yang dari golongan Hanafiyah dan ada yang dari golongan Syafi’iyah.
            Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembahasan-pembahasan usul fiqih  dilakukan secara luas yang masing-masing mempunyai corak dan metode sendiri-sendiri. Ada yang mengemukakan kaedah usul secara bebas tidak terikat dengan madzhab yang dianut oleh suatu golongan. Didalamnya kita menemukan jalan ijtihad yang digunakan untuk istimbat,yaitu ijtihad yng ditempuh uleh Abu Husein al-Bashry dalam al mu’tamat, oleh imamul haromain dalam al burhan oleh Al-Ghozaly dalam al mustashfa,oleh Ar-Razy dalam al-mahshul dan oleh Al-Amidy dalam .
            Ada sebagian ulama’ yang mengmukakan kaedah, yang sebenarnya tidak lain juga menerangkan madzhab, seperti yang dilakukan oleh al bazdawy dalam kitabnya yang menerangkan Ushul Hanafiyah. Al-Qarafy dalam Tanqihul Fusul; Asnawy dalam At-Tamhid dan seperti yang dilakukan olehIbnu Qudamah dalam Roudlotun Nadhir.
            Ada yang mengumpulkan kedua manhaj, yaitu manhaj ‘am dan manhaj khash.Kitab-kitab yang yang mengumpulkan kedua manhaj itu adalah  badi’un nidhamal-jami’u baina ishulil bazdawy wal ihkam karangan Ahmad ibn ali as-sa’aty; tankihul usul beserta syarahnyaat-tadlih,karangan shadrusy Shar’iah Abdulloh ibn Mas’ud al-Bukhory; jami’ul jawami’; karangan as-subki; dan mulammuts tsubut, karangan muhibbullah ibn Abdisy Syakur al-Hindy.
             Selain diatas ada  penulis ushul yang hanya membahas dasar-dasar syari’ahdengan jalan menerangkan maksu-maksud syara’yang umum dan jalan-jalan yang ditempuhdalm beristidlal secara umum, seperti yang dilakukan oleh Asy- Syatibi dalam al-muwaffaqot dan ‘Izzudin dalam Qoma’idul Ahkam.
            Sangat banyak jalan yang ditempuh para ulama’dalam membahas ilmu ushul. Tiap-tiap jalan itu menghasilkaan kebijakan dan kekayaan yang besar bagi Ilmu Ushul Fiqh yang sangat bermanfaat bagi umat.



BAB III

KESIMPULAN

            Dengan kita mendalami karakteristik para Imam madzhab semoga kita dalam beristimbat :
1.      Dapat menjadikaan ushul fiqh sebagai jalan untuk beristimbat dari hukum syar’i tanpa pengaruh pendapat orang lain.
2.      Dapat menjadikan Ushul fiqh sebagai sarana untuk merumuskan kaidah fiqh dalam setiap bab pada bab-bab fiqh dan mengaplikasikan masalah furu’ atas kaidah-kaidah tersebut.
Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa lebih mendekatkan pandangan tentang ushul fiqh dan akhirnya pendekatan antara satu madzhab dengan yang lain dapat tercapai dan dapat mengikis pagar yang merenggangkan satu sama lain. Dan semoga dengan pertolongan Alloh SWT. Umat Islam yang sekarang bercrai–berai dan semakin rapuh akan bersatu kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab Kholaf, Ilmu Ushul Fiqih Wa Kholashotu Tarikhi At-Tasyri’ ,Dar Al-Fikri Al-Aroby 1996
Dr. Ahmad Ash-Sharbasyi, Al-A’immatul Al-Arba’ah, Dar Al-Fikri Bairut Libanon.
 Muhammaad Abu Zahrah, Ilmu Ushul Fiqh
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab,PT.PUSTAKA RIZQY PUTRA Semarang 1987




[1]    Pendapat Ad-Dahlawy dalam Al-Ishaf bayan Al-ikhtika
[2]    Dr. Ahmad Sharbasyi, Al-A’immatul Al-Arba’ah, Dar Al-Fikri Bairut Libanon ,hal : 129
 [3]   Al-Umm VII

Tidak ada komentar: