Translate

Manajemen Pendidikan Islam




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Dalam setiap hal butuh adanya manajemen, karena hal tersebut menjadikan teratur dan lebih mengarahkan kepada tujuan yang akan dilakukan, begitu pula dalam hal pendidikan. Dalam dunia pendidikan manajemen tentunya termasuk sesuatu yang sangat urgen, mengingat suatu sistem pendidikan tak akan sempurna bahkan tidak bisa berjalan sesuai apa yang diharapkan kecuali dengan adanya manjemen pendidikan, hususnya dalam pendidikan islam.
Mengingat pentingnya akan hal tersebut, penulis akan sedikit memaparkan seperti apakah yang dimaksud dengan “Manajemen Pendidikan Islam” dan seluk beluk yang berada didalamnya.
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas bisa dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Apa Pengertian Manajemen ?
2.      Ada berapakah Bagian Bagian Manajemen Pendidikan Islam ?
3.      Apa yang dimaksud dengan Kerja Sama dan Sistem Informasi Pendidikan Islam ?





BAB II
PEMBAHASAN
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  1. Pengertian Manajemen
Semula, manajemen yang berasal dari  bahasa Inggris: management dengan kata kerja to manage, diartikan secara umum sebagai mengurusi atau kemampuan menjalankan, mengatur dan mengontrol suatu urusan atau “act of running and controlling a business” (Oxford, 2005). Kata tersebut merupakan derivasi dari kata دَبَّرَ (mengatur) yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Sajdah ayat 5 yang artinya sebagai berikut:
 “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.
Stoner (1986) mengartikan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber-sumber organisasi lainnya untuk mencapai organisasi yang telah ditetapkan G.R. Terry (1986)- sebagaimana dikutip Malayu S.P Hasibuan (1996) - memandang manajemen sebagai suatu proses, sebagai berikut: “Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”.
Dengan demikian, manajemen merupakan kebutuhan yang niscaya untuk memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi, serta mengelola berbagai sumberdaya organisasi, seperti sarana dan prasarana, waktu, SDM, metode dan lainnya secara efektif, inovatif, kreatif, solutif, dan efisien. Sedangkan pendidikan islam merupakan proses transinternalisasi nilai nilai islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat (Ramayulis, 2002). Maka dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan islam mencakup beberapa hal, yakni administrasi, pembiayaan serta kerja sama dan sistem informasi pendidikan berdasarkan perspektif islam.
  1. Bagian-bagian Manajemen Pendidikan Islam
  1. Pengelolaan Administrasi pendidikan
Secara sederhana dapat diartikan serangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, penugasan, pelaksanaan, pengwasan dan penilaian tentang berbagai masalah pendidikan dalam rangka mencapai tujuan yang tlah ditetapkan (Nata, 2010:251). Admnistrasi pendidikan mempyunyai beberapa fungsi utama, yaitu:
a.      Planning
Mondy dan Premeaux (1995) menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Perencanaan amat penting untuk implementasi strategi dan evaluasi strategi yang berhasil, terutama karena aktivitas pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staff, dan pengendalian tergantung pada perencanaan yang baik (Fred R. David, 2004).
Dalam dinamika masyarakat, organisasi beradaptasi kepada tuntunan perubahan melalui perencanaan. Menurut Johnson (1973) bahwa: “The planning process can be considered as the vehicle for accomplishment of system change”. Tanpa perencanaan sistem tersebut tak dapat berubah dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan lingkungan yang berbeda. Bagi sistem sosial, satu-satunya wahana untuk perubahan inovasi dan kesanggupan menyesuaikan diri ialah pengambilan keputusan manusia dan proses perencanaan.
b.      Organizing
Pengorganisasian merupakan proses membagi kerja dalam tugas tugas yang kecil, membebankan tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuanya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi(Fattah, 2004:71).
Tujuan pengorganisasian adalah mencapai usaha terkoordinasi dengan menerapkan tugas dan hubungan wewenang. Malayu S.P. Hasbuan (1995) mendifinisikan pengorganisasian sebagai suatu proses penentuan, pengelompokkan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relative didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Pengorganisasian fungsi manajemen dapat dilihat terdiri dari tiga aktivitas berurutan: membagi-bagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih sempit (spesialisasi pekerjaan), menggabungkan pekerjaan untuk membentuk departemen (departementalisasi), dan mendelegasikan wewenang (Fred R. David, 2004)
c.       Actuating
Soetopo dan Soemanto (1982) menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan ialah kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan secara bebas dan sukarela. Di dalam kepemimpinan  pendidikan sebagaimana dijalankan pimpinan harus dilandasi konsep demokratisasi, spesialisasi tugas, pendelegasian wewenang, profesionalitas dan integrasi tugas untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan organisasi, tujuan individu dan tujuan pemimpinnya.
Dalam isthilah manajemen terdapat isthilah yang sangat berhubungan erat dengan penggerakan (actuating) yakni motivating yang menjadi inti dari actuating. Motivasi yaitu suatu keadaan seseorang yang mendorong, mengaktifkan atau mengarahkan perilaku kea rah tujuan. Adapun prinsip-prinsip penggerakan yakni keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan.
d.      Controling  
Sebagaimana yang dikutif Muhammad Ismail Yusanto (2003), Mockler (1994) mendifinisikan pengawasan sebagai suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan untuk mendesain sistem umpan balik informasi; untuk membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan itu; menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan tersebut; dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumberdaya perusahaan telah digunakan dengan cara yang paling efekif dan efisien guna tercapainya tujuan perusahaan.
  1. Pembiayaan Pendidikan Islam
a.       Pengertian dan sumber pembiayaan pendidikan
Biaya pendidikan secara sederhana dapat diartian sebagai ongkos yang harus tersedia dan diperlukan dalam menyelenggarakan pendidikan dalam rangka mencapai visi, misi, tujuan, sasaran, dan strateginya (Nata, 2010:219). Pembiayaan pendidikan tersebut diperlukan untuk pengadaan gedung, infrastruktur dan peralatan belajar mengajar, gaji guru, gaji karyawan, dan sebagainya. Pembiayaan pendidikan awalnya tidak terlalu dipersoalkan namun seiring kegiatan belajar dan mengajar yang membutuhkan tempat khusus, sarana dan prasarana, infrastruktur, guru, dan lainnya yang secara khusus maka pengadaan pembiayaan pendidikan menjadi penting walaupun bukan merupakan segala-galanya, sebab tanpanya pendidikan menjadi sulit dilaksanakan untuk mencapai tujuannya yang ditetapkan. Berdasarkan petunjuk al-Quran, al-hadits, pendapat para ulama, dan fakta sejarah dapat ditemukan beberapa sumber biaya sebagai berikut:
1)      Dana dari Para Siswa (Wali Murid)
Orang tua mempunyai kewajiban atau tugas untuk mendidik anak-anaknya. Namun karena orang tua sibuk dengan tugas lainnya atau tidak menguasai berbagai keahlian dalam ilmu pengetahuan dan mengajarkannya, maka tugas tersebut diserahkan kepada guru maupun lembaga pendidikan yang telah tersedia yang kebutuhan biayanya ditanggung oleh orang tua. Oleh karenanya setiap orang yang membutuhkan pendidikan harus mengeluarkan biaya. Dana yang berasal dari para siswa tergolong yang palnig stabil, hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu: (1) Biaya pendidikan dipandang sebagai kewajiban bagi orang tua; (2) Biaya pendidikan dipandang dapat mengangkat harakat dan mertabat para siswa, orang tua merasa bangga dan terhormat; (3) Pengeluaran biaya pendidikan dipandang sebagai investasi yang menguntungkan, ia diyakini akan kembali dalam jumlah yang lebih besar semisal anak yang sukses dalam pekerjaannya melalui pendidikan.
2)      Dana wakaf
Pada awalnya, tujuan wakaf adalah untuk mengekalkan pokok dari suatu benda, sedangkan manfaatnya boleh digunakan untuk kebaikan. Salah satu dasar tentang wakaf adalah sebuah yang diriwayatkan Imam Muslim berikut ini:
" jika seseorang meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal, pertama sedekah yang berjalan terus, atau ilmu yang digunakkan, atau anak saleh yang mendoakannya."
Dalam sejarahnya wakaf mengalami perkembangan yang cukup pesat, bahkan bukan hanya tanah pertanian saja yang diwakafkan, melainkan juga rumah, toko, kebun pasar dan lain sebagainya.
3)      Dana kas negara
Sumber biaya pendidikan lainnya adalah dana kas negara. Beberapa lembaga pendidikan besar terdahulu seperti Madrasah al-Muntashiriyah di Baghdad, Darul Ilmi di Kairo yang mengambil dana kas negara untuk keperluan pembiayaan.
4)      Dana dari hibah perorangan dan lainnya
Beberapa lembaga mendapatkan dana bantuan dari beberapa orang kaya atau berkecukupan yang dikenal sebagai donatur yang memberikan dan secara rutin. Lembaga pendidikan yang mendapatkan dana ini biasanya adalah lebaga yang dapat dipercaya, menghasilkan lulusan yang bermutu, memiliki visi, tujuan, sasaran dan target serta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Selain itu ada dana perorangan yang diberikan langsung untuk para pelajar. Beberapa ulama besar seperti Imam al-Ghazali, Imam Syafi'i dan Ibnu sina juga pernah mendapatkan dana ini.
b.      Prinsip-prinsip pengelolaan dan pembiayaan pendidikan dalam Islam
1)      Keikhlasan
2)      Tanggung jawab kepada tuhan
3)      Suka rela
4)      Halal
5)      Kecukupan
6)      Berkelanjutan
7)      keseimbangan dan proposional
  1. Kerja Sama dan Sistem Informasi Pendidikan Islam
a.       Pengertian Kerja Sama dan Sistem Informasi Pendidikan Islam
Kerja sama dapat diartikan sebagai upaya membangun hubungan secara intensif, efektif, fungsional dan saling mernguntungkan, dalam rangka mendukung tercapainya tujuan. Adapun sistem informasi pendidikan merupakan sejumlah komponen yang saling berkaitan dalam mendukung terlaksananya informasi pendidikam secara jelas, tepat, efektif, efisien, dan berkelanjutan. Dalam sistem informasi misalnya terdapat profil atau gambaran singkat namun lengkap tentang lembaga pendidikan dan program-programnya, sistem pendaftaran dan lain-lain. Melalui kerja sama dan sistem informasi ini, para pelanggan, wali siswa, para siswa, maupun masyarakat dapat mendapatkan informasi yang diperlukan dengan mudah.
b.      Tujuan dan manfa'at
1)      Dapat menjaring peserta yang lebih luas untuk memasuki lembaga pendidikan dan program-program yang ditawarkan.
2)      Dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya dalam menyediakan informasi.
3)      Dapat membangun citra positif lembaga, lebih dikenal dan dipercaya oleh masyarakat.
4)      Dapat meningkatkan jaringan pemasaran.
5)      Dapat memberikan informasi secra cepat, tepat, dan efisien.
6)      Dapat mendatangkan nilai tambah atau manfaat yang lebih besar.
7)      Dapat memperkenalkan diri serta mendapatkan pengakuan secara luas.
c.       Prinsip-prinsip Kerja Sama dan Sistem Pendidikan Islam
1)      Berorientasi pada tercapainya tujuan yang baik, yakni meningkatkan mtu pendidikan dan citra positif lembaga pendidikan.
2)      Memerhatikan kepentingan bersama, mendaptkan keuntungan atau manfaat bagi kedua belah pihak secara bersama-sama.
3)      Berkelanjutan, yakni tidak hanya bersifat musiman melainkan spanjang waktu.
d.      Tahap-tahap pelaksanaan
1)      Tahap penjajakan, yakni mempelajari kekuatan dan kelemahan masing-masing baik dengan penjajakan maupun kunjugan untuk saling berkenalan.
2)      Penanda tanganan kerja sama dokumen kesepahamn kerja sama yang telah dipersipakan, dikaji, dan dibahas sebelumnya.
3)      Penyusunan program yang akan dilaksanakan bersama.
4)      Pelaksanan kegiatan yang telah direncanakan
5)      Evaluasi secara objektif, kritis, transparan dan komprehensif.
6)      Pelaporan kegiatan secara lengkap, sistematis dan jelas.

BAB III
PENUTUP
Manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya dimaksudkan sebagai suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan organisasi melalui pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating, dan controlling dalam penggunaan sumberdaya organisasi. Karena itulah, aplikasi manajemen organisasi hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi yang bersangkutan.
Ada beberapa hal yang sangat terkait dan urgen dalam manajemen pendidkan islam, yakni terkait dengan pembiayaan administrasi pendidikan islam serta kerja sama dan sistem informasi dalam pendidikan islam.
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Nanang. 2004. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya
      Nata, Abuddin.2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Kencana Prenada Media Group
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta.Kalam Mulia.



Hakikat Insan


Sulit untuk menjadi manusia seutuhnya, terkadang kita semua  bersikap layaknya hewan, binatang buas, bahkan malah kadang bisa bersikap berlainan dengan hal tersebut, terkadang kita bersikap layaknya makhluk suci, seperti halya malaikat yang tak henti hentinya untuk selalu berta'abbud kepadaNya. 

Naqd al Hadits



MAKALAH

PENELITIAN HADITS
BERWUDHU BAGI ORANG YANG MENYENTUH KEMALUANNYA
(Studi Hadits Riwayat Imam Abu Daud)

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Ujian Akhir Semester

Naqd al Hadits

Dosen pembimbing  : Drs. M. Damanhuri, MA




 














Oleh  :  Mujib

Nim: 11. 01. 0161

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“STAI MA’HAD ALY AL – HIKAM” MALANG


2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mengetahui hukum suatu perkara kita sebagai seorang muslim harus merujuk kepada sumber pertama (Al-Qur’an), kalau tidak ditemukan maka merujuk ke sumber kedua (hadits), kalau di kedua sumber tersebut tidak ditemukan maka dilakukanlah ijtihad. Disebutkan bahwa syarat sebuah hadis dinyatakan berkualitas sahih manakala memenuhi 4(empat) syarat, yaitu : 1. Diriwayatkan oleh para periwayat yang Adil dan Dhabit (keduanya disebut Tsiqah), 2. Sanadnya bersambung, 3. Bebas dari unsur Syadz dan 4. Bebas dari unsur Illat, maka langkah meneliti hadits harus ditempuh melalui  4 (empat) langkah.
Langkah pertama menguji ketsiqahan para periwayat. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi terwujud – tidaknya syarat adl dan dhabit pada periwayat. Cara yang dilakukan adalah dengan menelusuri biografi masing-masing periwayat dalam kitab Tarajum (biografi) untuk mendapatkan data-data periwayat tersebut yang meliputi antara lain : nama lengkapnya, tempat dan tahun dilahirkan dan wafatnya, guru-gurunya, murid-muridnya dan yang paling penting kualitas jarh dan ta’dilnya.
Langkah kedua adalah menguji persambungan sanadnya. Langkah ini ditempuh untuk menilai terwujud-tidaknya syarat persambungan sanad para periwayat. Cara ini dilakukan dengan menganalisis redaksi tahammul wa al-ada’ yang digunakan oleh para periwayat.
           Langkah ketiga adalah menguji apakah matan hadits terbebas dari unsur syudzudz. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui terpenuhi-tidaknya syarat bebas dari syadz atau syudzudz. Cara yang dilakukan adalah mengkofirmasikan teks matan dan atau maknanya dengan dalil Naqli, yaitu dengan mendatangkan ayat dan semua matan yang sama atau satu tema  dari jalur sanad lainnya, untuk dianalisis dan dibandingkan guna menentukan mana matan yang mahfudz dan mana matan yang syadz.

            Langkah keempat adalah menguji apakah matan hadits terbebas dari unsur illat atau tidak. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah syarat terbebas dari illat itu terpenuhi atau tidak. Cara yang dilakukan adalah mengkofirmasikan teks matan dan atau maknanya dengan dalil Aqli, ilmu pengetahuan, panca indera dan fakta sejarah. Apabila teks matan dan atau maknanya kontradiksi dengan semua itu, maka matan hadits dapat dinyatakan dhaif. Demikianlah langkah langkah dalam meneliti suatu hadits.
           Demikianlah langkah langkah sistematika yang ditempuh dalam penelitian sebuah hadits. Dalam hal ini penulis akan mencoba meneliti salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abi Daud.

BAB II
PENELITIAN HADITS
BERWUDHU BAGI ORANG YANG MENYENTUH KEMALUANNYA
(Studi Hadits Riwayat Imam Abu Daud)
A.    TEKS HADITS LENGKAP
181 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ يَقُولُ دَخَلْتُ عَلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَذَكَرْنَا مَا يَكُونُ مِنْهُ الْوُضُوءُ. فَقَالَ مَرْوَانُ وَمِنْ مَسِّ الذَّكَرِ. فَقَالَ عُرْوَةُ مَا عَلِمْتُ ذَلِكَ.فَقَالَ مَرْوَانُ أَخْبَرَتْنِى بُسْرَةُ بِنْتُ صَفْوَانَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ ».(رواه ابو داود)
Telah menceritakan kepada kita Abdullah bin maslamah dari malik dari Abdullah bin abu bakar sesungguhnya beliau mendengar ‘urwah berkata: aku bertanya kepada marwan bin hakam kemudian beliau menuturkan kepada saya tentang sebagian yang mengharuskan wudhu kemudian beliau berkata: dan sebagian memegang dzakar (alat kelamin pria) kemudian ‘urwah berkata aku tidak tahu itu kemudian marwan berkata busrah bintu shofwan menceritakan kepadaku bahwasanya beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda barangsiapa yang memegang dzakarnya maka dia harus berwudhu”.
B.     STRUKTUR SANAD HADITS
            Didalam hadits diatas terdapat 6 (enam) periwayat, yaitu :
  1. ‘Abdullah bin Maslamah.
  2. Malik.
  3. ‘Abdullah bin Abi Bakar.
  4. ‘Urwah.
  5. Marwan.
  6. Busrah binti Shofwan



             Bagan sanadnya dapat disusun sebagai berikut :

Nabi Muhammad saw
I
Busrah binti Shofwan
I
Marwan
I
‘Urwah
I
‘Abdullah bin Abi Bakar
I
Malik
I
‘Abdullah bin Maslamah
I
Abu Dawud
C.    BIOGRAFI  MASING-MASING  PERIWAYAT :

1.      Nama               : Abdullah bin Maslamah bin qa’nab
Tabaqah           : Tabi’ tabi’in junior
Kunyah           : Abu abdi Ar Rahman
Tempat tinggal: Madinah
Tempat wafat  : Basrah
Tahun wafat    : 221 H
Kualitas           : Tsiqoh.
2.      Nama               : Malik bin Anas bin Malik bin Abi Umar
Thabaqah         : Tabi’ Tabi’in senior
Kunyah           : Abu Abdillah
Tempat tinggal: Madinah
Tempat wafat  : Madinah
Tahun wafat    : 179 H
Kualitas           : Tsiqah makmun tsabat hujjah
3.      Nama               : Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazam
Thabaqah         :  Tabi’in Junior
Kunyah           : Abu Muhammad
Tempat tinggal: Madinah
Tempat wafat  : Madinah
Tahun wafat    : 135 H
Kualitas           : Tsiqah Tsabat
4.      Nama               : ‘Urwah bin Zubair bin ‘Awwam bin Khuwailid
Thabaqah         : Tabi’in Pertengahan
Kunyah           : Abu Abdillah
Tempat tinggal: Madinah
Tempat wafat  : -
Tahun wafat    : 93 H
Kualitas           : Tsiqah, orang yang paling tahu hadisnya ‘Aisyah
5.      Nama               : Marwan bin Hakam Bin Abi al ‘Ash bin Ummiyah
Thabaqah         : Tabi’in senior
Kunyah           : Abu Abdil Malik
Tempat tinggal: Syam
Tempat wafat  : Damsyiq
Tahun wafat    : 65 H
Kualitas           : la Ba’sa bihi fil hadis
6.      Nama               : Busrah Binti Shafwan Bin Nawfal
Thabaqah         : Sahabat
Kunyah           : Ummu Mu’awiyah
Tempat tinggal: Marwa Ar Raudz
Tempat wafat  : -
Tahun wafat    : -
D.    UJI KETSIQAHAN PARA PERAWI
            Penyajian data-data tentang al-Jarh wa al-Ta’dilnya para periwayat dalam sanad hadits yang diteliti dan analisisnya dapat disebutkan sebagai berikut :
  1. Abu dawud (Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi as-Sijistani (202- 275 H).)
ü  Al-Hafiz Musa bin Harun berkata: “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk Hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia.”
ü  Abu Bakar al-Khallal, berkata: “Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as as-Sijistani adalah Imam terkemuka pada jamannya, penggali beberapa bidang ilmu sekaligus mengetahui tempatnya, dan tak seorang pun di masanya dapat menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah selalu menyanjung Abu Dawud, dan mereka memujinya yang belum pernah diberikan kepada siapa pun di masanya. Mazhab yang diikuti Abu Dawud.
ü  Syaikh Abu Ishaq as-Syairazi dalam Tabaqatul Fuqaha menggolong-kan Abu Dawud sebagai murid Imam Ahmad bin Hanbal. Begitu pula Qadi Abdul Husain Muhammad bin Qadi Abu Ya’la (wafat tahun 526 H.) yang termaktub dalam kitab Tabaqatul Hanabilah. Penilaian ini disebabkan, Imam Ahmad adalah guru Abu Dawud yang istimewa.
  1. Abdullah bin Maslamah bin qa’nab [1]
1)      Dalam kitab Tahdzib al-Kamal Ma’a Hawasyih Juz 16 Halaman 136 disebutkan
·         Pernyataan Muhammad Bin Sa’ad: كان عابدا فاضلا
·         Pernyataan Ahmad Bin ‘Abdullah: ثقة
·         Pernyataan Abu Zur’ah: ما كتبت عن أحد أجل في عيني منه
·         Pernyataan Abdurrahman Bin Abi Hatim: ثقة ، حجة
2)      Dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib juz 6 halaman 28 disebutkan:
·         Pernyataan Ibnu Abi Hatim: قلت لأبي القعنبي أحب إليك في الموطأ
·         Pernyataan Ibnu Abi Uways: القعنبي أحب إلي لم أر أخشع منه
·         Pernyataan Abd. Shomad Al-Mufaddhal: ما رأت عيناي مثل أربعة فذكره فيهم
·         Pernyataan Ibnu Mu’ayyan:  ما رأيت رجلا يحدث الله إلا وكيعا والقعنبي
Dari sajian data-data di atas dapat disimpulkan bahwa Abdullah Bin Maslamah Bin Qa’nab adalah perawi yang Tsiqoh.
3.      Malik bin Anas bin Malik bin Abi Umar
1.      Dalam kitab Tahdzib at-tahdzib Juz 9 Halaman 3:
·         Pernyataan Ad-Dury: كل من روى عنه مالك فهو ثقة إلا عبد الكريم
·         Pernyataan dari Ali Bin Al-Madiny yang diungkapkan dari Yahya Bin Sa’id bahwa: أصحاب نافع الذين رووا عنه أيوب وعبد الله ومالك قال علي هؤلاء أثبت أصحاب نافع
2.      Dalam kitab Tahdzib al-Kamal Ma’a Hawasyih Juz 35 Halaman 654 742 disebutkan sebuah pernyataan dari Muhammad Bin Ishaq As-Saqofi As-Siraj: beliau bertanya kepada Imam Bukhori tentang sanad-sanad yang shohih, beliau menjawab: مالك عن نافع عن ابن عُمَر
Dari paparan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa Malik Bin Anas merupakan perawi yang Tsiqah Tsabat.
  1. Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazam
Dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib Juz 5 Halaman 199 dan Kitab Tahdzib al-kamal 654-742 disebutkan:
1.      Pernyataan Abdurrahman Bin Qasim: رجل صدق dan كثير الأحاديث
2.      Pernyataan Abdullah Ahmad:  حديثه شفاء
3.      Pernyataan Mu’in dan Abu Hatim: ثقة
4.      Pernyataan An-Nasa’i: ثقة ثبت
5.      Penyataan Ibn Sa’ad: ثقة كثير الحديث
Dari paparan data di atas dapat disimpulkan bahwa Abdullah Bin Abi Bakar adalah perawi yang Tsiqah Tsabat
  1. ‘Urwah bin Zubair bin ‘Awwam bin Khuwailid
a.       Dalam kitab Taqrib al-Tahdzib Juz 2 halaman 169, dikatakan: ثقة فقيه مشهور
b.      Dalam kitab Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat Juz 1 halaman 465, dikatakan:
Ø  Pernyataan Ibnu Syihab: كان عروة بحرًا لا يكدر
Ø  Pernyataan Hisyam: والله ما تعلمنا منه جزء من ألفى جزء من حديثه.
Ø  Pernyataan Ibnu ‘Uyaynah:
 كان أعلم الناس بحديث عائشة ثلاثة: القاسم، وعروة، وعمرة.
Ø  Pernyataan Ibnu Sa’id:  ثقة ثبت مأمون
Dari sejumlah data-data di atas maka dapat disimpulkan bahwa ‘Urwah Bin Zubair adalah perawi yang Tsiqah Tsabat.
  1. Marwan bin Hakam Bin Abi al ‘Ash bin Ummiyah
Dalam kitab Tahdzib al-Kamal Juz 11 halaman 65 disebutkan:
a.       Pernyataan ‘Utsman Bin Sa’id Al-Darimi: ليس بشيءٍ
b.      Pernyataan ‘Abbas Ad-Dury:
كان عنده كتاب عن منصور ، فقال له رجل : سمعت هذا من منصور ؟ قال : حتى يجئ ابني فاسأله
c.       Pernyataan Abu Hatim: ليس بقوي ، ضعيف الحديث ، منكر الحديث
d.      Pernyataan Al-Bukhori: منكر الحديث ، في حديثه نظر.
e.       Pernyataan An-Nasa’i: ضعيف.
f.       Pernyataan Abu Ahmad Bin ‘Ady: وأرجو أنه ممن لا يترك حديثه ، ويحتمل في رواياته فإنها متقاربة
g.      Pernyataan Ibnu Hibban di dalam kitab Tsiqatnya: يخطئ
h.      Pernyataan Ad-Daruquthni: ضعيف يعتبر به
i.        Pernyataan ‘Urwah bin Zubair: كان مروان لا يتهم في الحديث
Dari sajian data-data diatas, dapat disimpulkan bahwa Marwan bin Hakam Bin Abi al ‘Ash bin Ummiyah adalah perowi yang haditsnya masih dapat diterima meskipun dho’if.
7.      Busrah Binti Shafwan Bin Nawfal
 Binti Shafwan Bin Nawfal adalah seorang Sahabat Nabi saw. yang tidak perlu diragukan ketsiqahannya.
E.     UJI PERSAMBUNGAN SANAD
            Penyajian dan analisis data persambungan sanad dapat disebutkan sebagai berikut:
  1. Imam Abu Daud mengatakan : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ. Redaksi ini oleh Muhadditsin digunakan dalam periwayatan hadits dalam bentuk Sima’ah, yaitu pembacaan hadits oleh guru kepada murid. Dengan demikian berarti ada pertemuan antara Isma’il Ibn Mas’ud dengan gurunya Khalid Ibn al-Harits, dan ini berarti bahwa sanadnya : Muttasil.
  2. Adapun Abdullah Bin Maslamah mengatakan :  عَنْ مَالِكٍ. Periwayatan Malik ini memang menggunakan redaksi  An (عن), tetapi ‘An’anahnya  tidak ada indikasi menunjukkan adanya keterputusan sanad, bahkan dapat dinyatakan bahwa sanadnya adalah : Muttasil, karena : (1) Malik Bin Anas adalah periwayat yang Tsiqah, (2) Walaupun disebutkan termasuk orang dimungkinkan melakukan tadlis, namun masih termasuk dalam Murattabah al-Ula, yaitu yang ke-ta’dilannya masih diterima (3) Dimungkinkan ada atau pernah bertemu antara Abdullah Bin Maslamah dengan gurunya Malik Bin Anas. Dalam biografinya dia mengatakan pernah berguru kepada Malik Bin Anas, dan dalam biografi Malik Bin Anas, Abdullah disebutkan sebagai muridnya dalam pembelajaran hadits.
  3. Adapun Malik mengatakan :  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ. Periwayatan Abdullah ini memang menggunakan redaksi  An (عن), tetapi ‘An’anahnya  tidak ada indikasi menunjukkan adanya keterputusan sanad, bahkan dapat dinyatakan bahwa sanadnya adalah : Muttasil, karena : (1) Abdullah adalah periwayat yang Tsiqah, (2) Tidak dimungkinkan melakukan tadlis (3) Dimungkinkan ada atau pernah bertemu antara Abdullah dengan gurunya Abdullah Bin Abi Bakar. Dalam biografinya dia mengatakan pernah berguru kepada Abdullah bin Abi Bakar, dan dalam biografi Abdullah, Malik disebutkan sebagai muridnya dalam pembelajaran hadits.
  4. Adapun ‘Abdullah bin abi bakar mengatakan : أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ يَقُولُ. Pernyataan ini menyatakan bahwa ittishalnya masuk dalam kategori Sima’. Jadi, sanad yang menggunakan kalimat ini bias dinyatakan Muttasil, karena (1) ‘Urwah adalah periwayat yang tsiqah, (2) ‘Abdullah adalah periwayat yang tsiqah.
  5. ‘Urwah bin Zubair mengatakan فَذَكَرْنَا  dari sang guru yaitu Busrah binti Shofwan. Menurut mayoritas ahli hadits lafadz tesebur masuk dalam kategori sima’, dan sima’ adalah shighat riwayat yang paling tinggi. Jadi, dengan demikian sanad ini dinyatakan : Muttasil.
F.     HADITS HADITS PENDUKUNG
           Hadits-hadits yang sama dalam lafadznya ada sekitar 17 hadits yang berujung pada shohabah Busrah binti Shofwan. Kami hanya menyebutkan 2 diantaranya:
Ø  Dalam kitab  المستدرك على الصحيحين(مستدرك الحاكم)
474 - حدثنا أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه في آخرين قالوا : ثنا محمد بن إسحاق بن خزيمة ثنا محمد بن رافع ثنا ابن أبي فديك ثنا ربيعة بن عثمان عن هشام بن عروة عن أبيه عن مروان بن الحكم عن بسرة بنت صفوان قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من مس ذكره فليتوضأ
قال عروة : فسألت بسرة فصدقته. و منهم : المنذر بن عبد الله الحزامي المديني

Ø Dalam kitab     سنن الدارقطني
11 - حدثنا بذلك إبراهيم بن حماد حدثنا أحمد بن عبيد الله العنبري ح وحدثنا علي بن عبد الله بن مبشر والحسين بن إسماعيل ومحمد بن محمود السراج قالوا نا أبو الأشعث قالا نا يزيد بن زريع نا أيوب عن هشام بن عروة عن أبيه عن بسرة بنت صفوان أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : من مس ذكره فليتوضأ قال وكان عروة يقول إذا مس رفغيه أو أنثييه أو ذكره فليتوضأ واللفظ لأبي الأشعث صحيح
BAB III
KESIMPULAN
1.     Semua periwayat yang berjumlah 6 (enam) periwayat yang ada dalam sanad hadits, seluruhnya berkualitas : Tsiqah penuh, kecuali Marwan beliau dihukumi ضعيف يعتبر به.
2.     Seluruh sanadnya bersambung.
3.     Semua haditsnya berujung pada sahabat Busrah binti Shofwan sehingga haditsnya dijuluki dengan Hadits Ghorib.

Atas dasar uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hadits yang diteliti berkualitas Hasan Lighoirihi, bisa diterima untuk dijadikan Hujjah, karena otentik berasal dari Nabi SAW.

  1. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa hadis yang diteliti memiliki 17 (dua) hadis Tabi’, Atas dasar itu maka disimpulkan bahwa hadis tersebut termasuk kategori : Hadis Gharib Hasan Lighoirihi.

SUMBER RUJUKAN

1.      Sunan  Abi Daud karya  أبو داود سليمان بن الأشعث السجستاني
2.      Tahdzib al-Tahdzib karya        أحمد بن علي بن محمد ابن حجر العسقلاني
3.      Taqrib al-Tahdzib karya أحمد بن علي بن محمد ابن حجر العسقلان
4.      Tahdzib al-Kamal Ma’a Hawasyih karya يوسف بن الزكي عبدالرحمن أبو الحجاج المزي



[1] Tahdzib wa tahdzib,Imam Ibnu Hajar al-Asqolany, juz:6 hal:31